Silat Tak Hanya Pukul Memukul

Koreografi Pencak: Tak kurang dari 300 anak ikuti Lomba Koreografi Pencak Anak 2018, yang diprakarsai Tangtungan Project dan Paseduluran Angkringan Silat, di Pelataran Monumen SO 1 Maret, Jogjakarta, Minggu (28/10).

Koreografi Pencak: Tak kurang dari 300 anak ikuti Lomba Koreografi Pencak Anak 2018, yang diprakarsai Tangtungan Project dan Paseduluran Angkringan Silat, di Pelataran Monumen SO 1 Maret, Jogjakarta, Minggu (28/10).

JOGJA – Tak kurang dari 300 anak berkumpul di pelataran Monumen SO 1 Maret Jogjakarta, Minggu (28/10). Mereka unjuk kebolehan memperagakan jurus-jurus pencak silat, di atas panggung Lomba Koreografi Pencak Anak 2018, yang diprakarsai oleh Tangtungan Project dan Paseduluran Angkringan Silat.

“Lomba kali ini sekaligus untuk semakin mempopulerkan dimensi seni dalam pencak silat kepada masyarakat dunia,” ungkap Suryadi selaku Ketua Panitia Lomba Koreografi Pencak Anak, serata menyatakan, peserta anak usia 7-15 tahun itu berasal dari berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Cilacap, Wonosobo, Muntilan, dan Jogjakarta sendiri.

Pengalaman anak-anak dalam berproses mementaskan koreografi silat, menurut Suryadi, akan membantu mereka membangun kesadaran gerak, ruang panggung, ekspresi, dan busana dalam satu kepaduan harmonis.

“Jauh ke depan, mereka akan siap tampil kapan dan di mana saja untuk membuka mata masyarakat, pencak silat bukan hanya soal pukul memukul saja namun ada muatan olah seni budi rasa di dalamnya,” tegasnya.

Berkaitan dengan itu, panitia telah memberikan pembekalan kepada calon peserta melalui workshop koreografi silat pada 9 September 2018 di Pendapa Balaikota Jogjakarta diikuti oleh 60 orang dari berbagai kota.

KGPAA Paku Alam X saat menyerahkan piala yang akan diperebutkan kepada panitia menyampaikan pesan, agar olah budi rasa melalui seni budaya, teristimewa di kalangan anak-anak, harus terus didukung dan digalakkan, demi pembentukan karakter bangsa karena sudah tiba saatnya seni budaya menjadi panglima.

Acara yang mendapat dukungan penuh pemda DIY, pemkot Jogja, dan IPSI DIY itu diapresiasi dan dikritisi oleh dewan juri terdiri dari pegiat silat dan teaterawan Whany Dharmawan, penari dan koreografer Nia Agustina, serta wasit IPSI DIY Agung Nugroho. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan