Sinta Minimalisir Plagiarisme

Tjukup Marnoto (kiri) dan Hafsah.

Tjukup Marnoto (kiri) dan Hafsah.

SLEMAN (jurnaljogja.com) – Plagiarisme menjadi musuh utama dunia pendidikan tinggi. Portal Sinta (Science and Technology Index) milik Kemenristekdikti (Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi) yang menampung seluruh publikasi ilmiah dosen di Indonesia diyakini mampu meminimalisir adanya plagiarisme.

“Melalui kategori yang ada, Sinta akan mampu mendeteksi kemungkinan terjadinya plagiarisme. Dengan demikian, Sinta secara otomatis akan meminimalisir plagiarisme di kalangan dosen di Indonesia,” ungkap Dekan FTI (Fakultas Teknologi Industri) UPNVY, Ir Tjukup Marnoto MT PhD, di kampus setempat, Condongcatur, Sleman, DIJ, Rabu (18/10).

Bahkan Sinta pun tidak akan menerima autoplagiasi. “Meski kita mengutip dari karya kita sendiri tapi kalau ada kesamaan sebesar enam puluh persen, otomatis Sinta tak akan menerima karya kita itu masuk ke dalam daftarnya,” tutur Tjukup.

Di sela sosialisasi tentang Sinta bagi dosen FTI, itu Tjukup juga mengemukakan, jika kemiripannya hanya 15-30 persen Sinta masih akan menerima karya ilmiah ke dalam daftarnya. “Itu pun harus di posisikan sebagai data sekunder,” tandasnya.

Selain secara otomatis mendeteksi plagiarisme, Kemenristekdikti melalui Sinta akan dengan mudah mengetahui cukup tidaknya jumlah karya ilmiah seorang dosen. “Ini akan menyangkut tunjangan profesi seorang dosen maupun guru besar,” timpal Wakil Dekan bidang Akademik FTI UPNVY, Hafsah.

Bagi seorang Guru Besar, minimal harus memasukkan satu karya ilmiah ke dalam jurnal internasional dalam kurun waktu satu tahun. Untuk Lektor Kepala, satu karya ilmiah di jurnal internasional dalam tiga tahun. Untuk dosen biasa, minimal cukup di jurnal nasional terakreditasi.

Akan muncul kategori hijau, kuning, dan merah di dalam Sinta. “Jika hijau maka tunjangan profesi bagi dosen atau guru besar itu akan aman. Kuning berarti jumlah karya ilmiah mereka kurang. Merah, secara otomatis seorang dosen atau guru besar tak akan lagi menerima tunjangan profesi mereka pada bulan atau semester berikutnya,” papar Hafsah kemudian.

Jadi, selain memudahkan Kemenristekdikti dalam mendata dosen dan guru besar, Sinta juga bisa menjadi peringatan atau koreksi bagi para dosen dan guru besar jika masih ingin menerima tunjangan profesi mereka.

Ratusan, tepatnya sekitar 120-an orang dosen UPNVY telah terdaftar ke dalam Sinta. “Jumlah itu pasti akan bertambah terus. Kemenristekdikti mulai tahun ini memang mewajibkan seluruh dosen dan guru besar di Indonesia masuk ke dalam daftar Sinta,” tutur Hafsah lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan