Siswa Jangan Lagi Hanya Datang Duduk Diam

Inovasi Pendidikan: (dari kanan) Rektor UNY Sutrisna Wibawa, Dirjen Belmawa Kemenristekdikti Intan Ahmad, dan pakar pendidikan asal Finlandia Harri Lappalainen saat menjelaskan seputar inovasi pendidikan, di kampus UNY, Rabu (7/3).

Inovasi Pendidikan: (dari kanan) Rektor UNY Sutrisna Wibawa, Dirjen Belmawa Kemenristekdikti Intan Ahmad, dan pakar pendidikan asal Finlandia Harri Lappalainen saat menjelaskan seputar inovasi pendidikan, di kampus UNY, Rabu (7/3).

JOGJA – Seiring perkembangan zaman dan teknologi informasi, metodologi pembelajaran terhadap siswa tak lagi seperti dulu. Tak lagi berpusat pada guru atau pengajar, sebaliknya siswa yang harus menjadi sentral. Guru hanya sebatas fasilitator. Biarkan siswa berkembang sehingga kreativitas mereka bisa berkembang optimal.

“Bukan saatnya lagi siswa hanya datang, duduk, dan diam. Jangan biarkan juga siswa hanya mengulangi secara kaku segala hal yang diajarkan guru. Guru tak lagi digugu dan ditiru. Harus lebih dari itu. Harus mampu mengembangkan kreativitas siswa,” ungkap pakar pendidikan asal Finlandia, Harri Lappalainen, di sela konferensi internasional Indoped, Innovation Pedagogy for Indonesian Higher Education, di kampus UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), Rabu (7/3).

Berbicara mengenai inovasi pendidikan, jelas Lappalainen, prinsip utama dan yang terpenting bagaimana membuat siswa berubah menjadi lebih kreatif. Mengutarakan pengalaman di negaranya, siswa tak hanya melulu belajar di dalam kelas. “Siswa harus diajak keluar kelas. Mengamati lingkungan untuk kemudian dimasukkan di dalam pelajaran di sekolah,” ujar dosen di Turku University & Applied Science, Finlandia itu.

Dirjen Belmawa (Pembelajaran dan Kemahasiswaan) Kemenristekdikti, Prof Dr Intan Ahmad menyatakan, inovasi atau perubahan di bidang metodologi pendidikan memerlukan waktu. Tidak bisa serta merta berubah. Begitu pula metode di negara lain, misalnya di Finlandia, tidak bisa pula begitu saja kita adopsi. “Yang baik bisa saja kita ambil. Tapi, tentu dengan penyesuaian di sana-sini agar cocok dengan situasi sosial budaya di Indonesia,” katanya.

Rektor UNY, Prof Dr Sutrisna Wibawa menegaskan, inovasi pola pembelajaran dilakukan agar proses belajar mengajar menjadi lebih menarik. Guru tidak lagi menjadi sentral, tapi justru siswa yang menjadi pusat perhatian. Harus student oriented. Dosen atau guru harus mampu menjadi fasilitator bagi siswa. Jika metode pembalajaran yang dikembangkan di UNY dinilai berhasil, maka bisa ditularkan ke perguruan tinggi lain terutama LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) yang ada di Indonesia.

Sutrisna pun mencontohkan, pengembangan metode pembelajaran yang diadopsi dari Finlandia itu semula hanya diterapkan di tiga program studi Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, dan Bahasa Prancis. Tapi kemudian banyak yang tertarik dan kemudian berkembang hingga diterapkan di 11 program studi. “Ke depan, UNY akan mengembangkannya lebih luas lagi hingga ke semua program studi,” tandasnya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan