SPP Mahasiswa Tak Boleh Jadi Andalan

IMG_20160927_095537
Anggoro Rulianto/Jurnal Jogja
Rektor UAD Kasiyarno (kiri) dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (kiri) saat menggunting buntal tanda peresmian SPBU UAD, Senin (26/9).
JOGJA – Peraturan Kemenristek-dikti (Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi) menyebutkan, perguruan tinggi tak boleh hanya mengandalkan SPP mahasiswa sebagai sumber pendanaan. Karena itu, perguruan tinggi diperbolehkan memiliki badan usaha sebagai sumber pendanaan pendidikan.
“Dengan demikian, sah-sah saja jika satu perguruan tinggi tak hanya mengurusi pendidikan, tapi juga mengelola atau bahkan memiliki unit usaha,” ujar Rektor UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, Dr H Kasiyarno MHum, pada peresmian SPBU (stasiun pengisian bahan-bakar umum) milik kampus tersebut, Senin (26/9).
SPP mahasiswa, lanjut Kasiyarno, hanya boleh menopang 35 persen dari total anggaran perguruan tinggi. Selebihnya, atau 65 persen, harus berasal selain dari SPP mahasiswa. “Karena itulah SPBU ini kami bangun. Salah satunya untuk mendukung pembiayaan pendidikan,” katanya, menyebut SPBU yang terletak di Jalan Wates Km 13 itu.
Keberadaan SPBU tersebut melengkapi unit usaha lain yang sebelumnya telah dimiliki UAD, meliputi jasa pengukuran dan kalibrasi alat pengukuran medis, jasa perbankan dalam bentuk BPR Syariah, dan Rumah Sakit Holistika Medika.
Ke depan, kemungkinan masih akan ada SPBU lain yang akan dibangun karena UAD telah mengantongi ijinnya. Pun, unit usaha lain. Yang saat ini sedang digagas, instalasi pengolahan limbah rumah sakit. “Semuanya itu untuk mengurangi beban masyarakat atau mahasiswa karena UAD tidak melulu bertumpu pada SPP mahasiswa,” tandas Kasiyarno.
Wakil Rektor II Bidang Pengelolaan Sumberdaya UAD, Dr Muhammad Safar Nasir MSc mengungkapkan, UAD sebagai PTS sejak awal berupaya memenuhi aturan bidang keuangan dari kementerian tersebut. “Dan dalam membuka badan usaha, UAD komitmen untuk tidak hanya berlandaskan bisnis semata, tapi juga pengetahuan,” katanya.
Setiap badan usaha yang didirikan dipastikan berhubungan dengan pengetahuan. “Intinya, kami berupaya membangun ekonomi berbasis pengetahuan. Tidak hanya berfungsi sebagai sumber pendapatan, tapi juga merupakan laboratorium nyata bagi para mahasiswa,” tutur Safar kemudian.
SPBU UAD pengelolaannya dilakukan PT Adi Multu Energi, badan usaha milik UAD. Total dana pembangunan sebesar Rp 11,77 miliar, seluruhnya berasal dari UAD. “Yang membanggakan, SPBU UAD ini menjadi SPBU pertama di DIY-Jawa Tengah yang berpredikat ‘Pasti Prima’ atau standar pelayanan tertinggi di atas ‘Pasti Pas’ sebagaimana dimiliki SPBU lain,” papar Safar. (rul)
CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan