Sriboga Kuasai 7 Persen Pangsa Pasar Terigu di Indonesia

JOGJA (jurnaljogja.com) – PT  Sriboga Flour Mill (SFM) sebagai pionir dan pemimpin pasar tepung terigu inovatif dari Jawa Tengah,  saat ini masuk dalam 5 besar produsen tepung terigu yang menguasai 7 persen pangsa pasar terigu di Indonesia, dengan kapasitas produksi mencapai 1.900 ton per-hari.
Direktur Komersial PT Sriboga Flour Mill, Zas Ureawan menjelaskan, produk SFM saat ini 95 persen di antaranya dipasarkan ke pasar domestik,  sisanya diekspor ke berbagai negara  seperti Korea, Malaysia, Filipina, Timor Leste, Brunei, Singapura dan Thailand. “Saat ini 40 persen penjualan produk SFM diserap UKM, dimana sampai saat ini SFM telah membangun ratusan paguyuban dan koperasi berbasis tepung terigu yang terdiri dari ribuan pengusaha UKM,” katanya di sela grand launching produk barunya di Hotel Tentrem Jogjakarta, Kamis (2/6) malam.
Tiga varian produk tepung terigu yang diluncurkan yaitu terigu HIME untuk roti tawar/roti manis yang lebih putih dan lembut. Terigu NINJA untuk cake lebih lembut, dan kue kering yang renyah, dimana kedua terigu tersebut terinspirasi dari Jepang. Sedangkan satu lagi,  double zero terinspirasi dari terigu Italia (Doppio Zero) yang kegunaannya untuk roti ala Eropa & Pastry dengan volume maksimal. Ketiga produk tersebut memiliki positioning,  yaitu “Terigu Super Premium Low Ash Fine Granulation untuk Hasil Maksimum”.
Marketing Manager PT SFM, Rike Sundari mengatakan, di  bawah naungan group PT Sriboga Raturaya yang juga merupakan induk dari waralaba Pizza Hut, serta restoran jaringan terbesar di Jepang, yaitu Marugame Udon, PT SFM melaunching produk tepung terigu super premium yang menyasar pasar HORECA (Hotel Restaurant Café), established micro enterpreneur, start up young enterpreneur + husehold eEnterpreneur dan household,  dengan kemasan terbaru 1kg.  “Kita berusaha membantu pasar HORECA dan usaha menengah karena pasar tersebut membutuhkan kemasan lebih kecil. Ini sebagai alternatif dan menyiasati dari kemasan 25 kg yang telah kami pasarkan. Dimana kemasan 25 kg tersebut jika sudah digunakan dan terlalu lama disimpan dan  masih tersisa,  maka risiko terkontaminasi cukup besar,” katanya.
Untuk mendukung penjulan dari segment yang telah ditentukan tersebut,  SFM berniat promosi di beberapa titik channel membership,  seperti  grosir, toko bahan kue dan modern trade lainnya yang telah  ditunjuk di area west, central dan east. ”Program above the line  ini agar tepat menyasar segmen HORECA,  khususnya di beberapa majalah Bakery ternama, serta kerjasama dengan beberapa media lokal seperti radio dan surat kabar yang menyasar established micro enterpreneur hingga program digital marketing yang menyasar young enterpreneur. Menurutnya, beberapa program seperti baking demo di tiap wilayah sasaran juga sudah diprogramkan, hingga kunjungan technicaldAdvisor di wilayah-wilayah HORECA.
Komisaris PT SFM, Brata Taruna Hardjosubroto menyampaikan, di awal berdirinya PT SFM  hanya memproduksi sekitar 15 ribu sak tepung terigu regular ukuran 25 kg per- hari. Kini, 35 ribu sak per-hari, yang dibungkus dalam 7 merek lainnya, yaitu  Beruang Biru, Tali Emas, Pita Merah, Naga Emas, Naga Biru, Naga Merah dan Naga Hijau. Produk-produk itu dibeli sederet nama beken yang jadi pelanggannya, seperti Dunkin Donat, Pizza Hut, Nissin, Sari Husada dan Tiga Pilar Sejahtera. Ada pula perusahaan bakery, seperti Wonder, Exelent, Swiss Semarang, Mirota Jogja, Roti Kecil Solo dan Kartika Sari (Bandung) yang juga memesan. (bam)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan