Stasiun Tugu Saksi Sejarah Kemerdekaan

Pintu Timur Stasiun Tugu Jogjakarta

Pintu Timur Stasiun Tugu Jogjakarta

JOGJA – Stasiun Tugu Jogjakarta tak hanya dikenal sebagai salah satu tempat pemberhentian kereta api tertua di Indonesia yang terletak di tengah kota Jogjakarta. Ternyata menjadi salah satu saksi bisu juga bagi sejarah Kemerdekaan. Menjadi tujuan akhir perjalanan kereta luar biasa Presiden Republik Indonesia pertama, Ir Soekarno, saat memindahkan ibukota dari Jakarta ke Jogjakarta.

Dekat dengan objek wisata serta pusat belanja kawasan Malioboro, stasiun yang mulai dioperasikan sejak 2 Mei 1887 itu merupakan stasiun kereta api kedua di kota Jogjakarta setelah Stasiun Lempuyangan yang telah dioperasikan 15 tahun lebih awal. “Kini beratus tahun kemudian kami terus melakukan pembenahan agar penumpang lebih nyaman,” tutur Kadaop (Kepala Daerah Operasi) 6 PT KAI (Kereta Api Indonesia), Eko Purwanto.

Jalur kereta api di kota Jogjakarta pada awalnya dibangun untuk kebutuhan pengangkutan hasil bumi dari daerah Jawa Tengah dan sekitarnya yang menghubungkan kota-kota Jogjakarta – Solo – Semarang. Baru pada 1905, Stasiun Jogjakarta mulai melayani kereta penumpang. Saat ini sudah menjadi stasiun besar dengan enam jalur kereta yang melayani kereta kelas bisnis dan eksekutif untuk berbagai kota tujuan di pulau Jawa. Jalur ke kota Semarang melalui Magelang justru sudah tidak beroperasi.

“Tak kurang dari enam hingga delapan ribu penumpang memanfaatkan jasa kami per harinya. Agar penumpang lebih nyaman, kami terus melakukan pembenahan. Terutama lingkungan di sisi timur yang telah kami mulai Agustus ini. Berikutnya nanti sisi selatan. Hingga akhir tahun ini, kami menargetkan pembenahan telah selesai,” tutur Eko.

Selain menata taman hingga menjadi lebih asri serta penambahan pencahayaan tata lampu yang mendukungnya, stasiun Tugu kini mulai terlihat lebih rapi. Terasa sentuhan kekinian meski tak meninggalkan atau tak meniadakan ciri arsitektur bergaya art deco yang sangat populer pada pada masa antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

Kursi rotan pernah diduduki Presiden Soekarno

Kursi rotan pernah diduduki Presiden Soekarno

Masih terdapat pula kursi panjang dengan tempat duduk dari anyaman rotan, yang pernah dipergunakan Presiden Soekarno. Kini kursi itu diletakkan di gazebo dilengkapi dengan narasi sejarah perkeratapian di Indonesia, khususnya stasiun Tugu. “Kami ingin masyarakat tak akan melupakan sejarah bangsanya sendiri,” tandas Eko.

Stasiun Tugu memiliki dua pintu masuk dan keluar. Pintu utama yang menghadap ke Jalan Margo Utomo atau Jalan Pangeran Mangkubumi, termasuk wilayah Kelurahan Gowongan, Kecamatan Jetis dan pintu selatan yang menghadap ke arah Jalan Pasar Kembang wilayah Kelurahan Sosromenduran Kecamatan Gedongtengen. Stasiun ini memiliki bangunan khusus untuk loket di pintu selatan.

Ke arah timur stasiun, terdapat perlintasan terunik di Indonesia. Perlintasan berbentuk gerbang geser dengan nomor PJL (pos jaga lintasan) 3A dan 3B, khusus untuk sepeda, becak, andong, atau pejalan kaki yang melintas di sekitar kawasan Malioboro. Terdapat pula jembatan yang membentang di atas Kali Code, Jembatan Kewek, karena melintang di atas Jalan Abu Bakar Ali yang dahulunya diberi nama Kerkweg.

Stasiun ini juga dikenal karena sering mengalami renovasi dan penataan ulang. Sisi selatan yang berlokasi di jalan Pasar Kembang yang semula kumuh, trotoar penuh lapak dan bangunan pedagang kini sudah bersih, rapi, dan indah. PT KAI pun membangun pedestrian selebar enam meter memanjang di sepanjang Jalan Pasar Kembang menambah indah stasiun Tugu.

Sisi timur yang dulu penuh kendaraan sebagai tempat parkir, sekarang rapi, indah dan terkesan berwibawa karena hanya digunakan untuk drop off. Apresiasi masyarakat juga sangat positif dengan dibangunnya air mancur sebagai area publik untuk sekedar melepas lelah dan mencuci mata.

Lebih indah lagi ketika di senja hingga malam hari, Stasiun Tugu dihiasi dengan lampu kelap kelip warna-warni membuatnya semakin megah tidak kalah dengan bangunan lain yang ada di wilayah Jogjakarta. Pojok selatan, tepatnya di perlintasan KA Abu Bakar Ali dibangun Loko Cafe dengan semboyan ‘madhang medang jagongan’. Dengan fasilitas musik live yang buka 24 jam, melayani semua jenis minuman kopi nusantara dan masakan tradisional. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan