Stipram Berwenang Terbitkan Sertifikat “Food Production”

IMG_20160701_195419

Foto: Anggoro Ruliantoro/jurnaljogja

Ketua Stipram Suhendroyono MM MPar

JOGJA – Pekerja di bidang pariwisata saat ini tak bisa hanya mengandalkan keahlian berdasarkan pengalaman semata. Untuk dapat diakui, terlebih di dunia internasional, pekerja pariwisata dituntut mampu menunjukkan profesionalisme dan kompetensi layak yang bisa dibuktikan melalui sebuah sertifikat.

Sebagai salah satu perguruan tinggi pariwisata, Stupram (Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata Ambarrukmo) Yogyakarta, patut berbangga. Melalui penilaian secara diam-diam selama tiga tahun terakhir, LA-LPK (Lembaga Akreditasi Lembaga Pelatihan Keterampilan) Kemenaker, memberikan sertifikat ekreditasi bagi program ‘food production’ yang dimiliki Stipram

Sekaligus memberikan lisensi bagi Stipram untuk melakukan sertifikasi bagi lembaga lain. “Siapa pun yang ingin disertifikasi bisa menghubungi kami, baik perorangan seperti mahasiswa, restoran, atau hotel,” ujar Ketua Stipram, Suhendroyono MM MPar.

Lebih meyakinkan karena LA-LPK Kemenaker saat melakukan penilaian juga berkolaborasi dengan lembaga akreditasi independen internasional. “Dengan demikian, lulusan Stipram yang mengantongi sertifikat tersebut, dipastikan akan lebih dihargai sekaligus diakui kompetensi mereka di bidang food production di dunia pariwisata internasional,” tandasnya.

Beberapa penilaian yang diujikan untuk memperoleh akreditas tersebut, antara lain standar mutu, standar kualifikasi, standar spesifikasi, standar kompetensi, dan standar kemandirian. “Kami tidak tahu kalau selama ini dinilai. Akreditasinya pun bukan kami yang mengajukan. Kami terpilih untuk dinilai dan diberi sertifikat akreditasi,” tutur Suhendroyono.

Koordinator Kopertis Wilayah V DIY, Dr Bambang Supriyadi mengatakan, lulusan yang memiliki sertifikat kompetensi selain ijazah pasti bisa mendapatkan pekerjaan jauh lebih mudah dan cepat. “Industri sekarang ini tak hanya melihat ijazah tapi juga kompetensi calon pekerjanya. Apalagi ini di bidang pariwisata, di mana jasa pelayanan menjadi yang utama,” katanya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan