Sulit Ubah Pola Makan Masyarakat

Mohamad Zulkarnain Yuliarso

Mohamad Zulkarnain Yuliarso

JOGJA – Diversifikasi konsumsi pangan, selain beras sebagai sumber karbohidrat, sangat diperlukan seiring pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk serta tingginya alih fungsi lahan. Pengembangan pangan lokal, sesuai potensi, ketersediaan, dan kearifan lokal, patut dilakukan. Hanya saja, sulit mengubah perilaku konsumsi di tingkat rumahtangga. Dengan kata lain, keberhasilan diversifikasi pangan secara nasional akan sangat dipengaruhi oleh pola makan masyarakat.

“Sulitnya mengubah pola makan atau kebiasaan konsumsi di tingkat rumahtangga pun dirasakan di masyarakat di kabupaten Bengkulu Utara,” ungkap dosen Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, Mohamad Zulkarnain Yuliarso, saat mempertahankan disertasi guna memperoleh gelar doktor pada program studi Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan Sekolah Pascasarjana UGM, di kampus Pascasarjana UGM, Rabu (31/1).

Menyoal rendahnya konsumsi bahan pangan lokal di Bengkulu Utara, Zulkarnain antara lain menyebutkan, media massa kurang berpengaruh terhadap perubahan sikap dan kebiasaan makan pangan lokal pada masyarakat perdesaan. “Justru komunikasi secara gethok tular, dari mulut ke mulut, lebih berpengaruh dalam mengubah pola makan masyarakat,” katanya.

Berdasarkan penelitiannya, Zulkarnain menyarankan, strategi komunikasi yang dilakukan dalam kegiatan diversifikasi pangan lokal haruslah menyesuaikan dengan situasi sosial dan budaya yang ada di masyarakat. “Sosialisasi dan promosi harus mampu memperkuat kesadaran untuk melestarikan nilai-nilai terkait pangan lokal yang memang sudah berakar sehingga masyarakat lebih percaya diri dan bangga dengan pangan lokal,” tandasnya.

Strategi komunikasi, lanjut Zulkarnain, juga harus dapat memunculkan kembali simbol-simbol budaya pangan lokal yang pernah tumbuh dan berkembang dalam masyarakat sehingga dapat terpelihara baik dengan partisipasi masyarakat lokal dan pemimpin lokal serta dukungan pemerintah daerah setempat. Misal, dengan mengadakan festival atau gelar budaya pangan lokal di setiap desa dengan memanfaatkan dana desa.

Gagasan lain yang dapat dipertimbangkan sebagai media informasi adalah folk media karena masyarakat masih menyukai budaya dan kesenian tradisional sebagai media transformasi nilai-nilai termasuk pesan-pesan pembangunan. “Strategi komunikasi yang tepat melalui pendekatan budaya diharapkan dapat mengubah sikap dan kebiasaan makan pangan lokal menjadi lebih meningkat,” katanya.

Penyebaran informasi melalui media massa diperlukan untuk menyebarkan informasi dan membangun kesadaran secara massal. Tapi untuk mengubah sikap dan kebiasaan makan pangan lokal pada masyarakat perdesaan dibutuhkan pemuka pendapat. “Karenanya, dalam merancang strategi komunikasi perlu mengoptimalkan peran opinian leader untuk mengubah sikap dan kebiasaan makan masyarakat,” tutur Zulkarnain kemudian.

Ketersediaan pangan lokal melalui kegiatan produksi usahatani perlu mendapat perhatian dari pembuat kebijakan mengingat ketersediaan sumber pangan lokal yang cukup dan mudah diakses akan membuat sikap terhadap kebiasaan makan menjadi lebih baik. “Sosialisasi kontinyu melalui berbagai program pun harus dapat dilakukan secara koordinatif dengan berbagai pemangku kepentingan, dengan dukungan kebijakan pemerintah daerah dan teknologi pengolahan pangan yang tepat,” tandas Zulkarnain. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan