Suluh Kebangsaan Tularkan Patriotisme

bangsa
JOGJA – Sebagian kelompok masyarakat makin terasa berupaya memecah-belah bangsa di tahun politik ini. Sejumlah tokoh, yang menamakan diri Gerakan Suluh Kebangsaan, pun berupaya merekatkan kembali sekaligus merawat rasa kebangsaan yang mulai koyak melalui jelajah kebangsaan yang digelar secara marathon mulai dari Merak hingga Banyuwangi.

“Acara yang kami gagas ini kampanye, memang. Tapi bukan untuk politik praktis. Kampanye untuk merawat kebangsaan,” ujar Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan, Prof Dr Moh Mahfud MD, pada dialog kebangsaan, di emplasemen selatan Stasiun KA Tugu Jogjakarta, Selasa (19/2) malam.

Dialog di Jogjakarta itu merupakan kelima setelah sebelumnya digelar di Stasiun Merak, Stasiun Gambir Jakarta, Stasiun Cirebon, dan Stasiun Purwokerto. Setelah Jogjakarta, mereka akan bergerak ke Stasiun Solo Balapan, Stasiun Jombang, Stasiun Surabaya Gubeng, dan terakhir di Stasiun Banyuwangi.

“Kami sangat berterimakasih dengan Kadaop 6 Jogjakarta, pak Eko Purwanto, serta PT KAI secara keseluruhan yang telah menyediakan kereta api beserta segala fasilitasnya mulai dari Merak hingga Banyuwangi nantinya selama lima hari perjalanan,” tandas Mahfud yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu.

Bertemakan patriotisme, progresivitas, dan kemajuan, pada dialog di Jogjakarta itu tampil sebagai narasumber GKR Mangkubumi puteri sulung HB X, tokoh NU KH Malik Madaniy, Alissa Wahid puteri sulung Gus Dur, rohaniwan Romo Benny Susetyo Pr, dan budayawan Charis Zubair.

“Indonesia merupakan negeri yang sangat indah. Bangsa ini patut bersyukur pada anugerah Tuhan itu dengan selalu merawat patriotisme, menjaga progresivitas, sekaligus menjaga kemajuan. Sangat disayangkan jika negeri yang indah ini harus tercabik akibat nafsu angkara murka oleh sebagian kecil anak bangsa ini,” tutur KH Malik.

Bangsa ini, lanjut KH Malik, harus maju dan bermartabat. “Selama bangsa ini tak terpancing untuk terpecah-belah, insya Allah Indonesia akan tetap menjadi negara besar,” ujarnya seraya menyatakan, jangan sampai seperti negara lain seperti Suriah, Libya, Afghanistan yang rakyatnya menjadi sengsara dan harus mengungsi.

Alissa pun meniupkan optimisme untuk negeri dan bangsa ini. “Tanpa upaya apapun, dibiarkan berjalan dengan sendirinya, Indonesia akan menjadi negara urutan ketujuh dunia pada 2045 mendatang. Jika dengan upaya, akan menjadi negara urutan kelima pada 2038,” tuturnya kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan