Susah Melantunkan Cengkok Musik Ini

Keroncong: Penampilan salah satu duta seni peserta lomba nyanyi keroncong Peksiminas XIV 2018, di Concert Hall ISI Jogjakarta, Kamis (18/10).

Keroncong: Penampilan salah satu duta seni peserta lomba nyanyi keroncong Peksiminas XIV 2018, di Concert Hall ISI Jogjakarta, Kamis (18/10).

JOGJA – Banyak anak muda sudah mulai menyukai, memang. Namun, keroncong sebagai salah satu genre musik Indonesia hingga kini belum akrab di telinga sebagian anak muda. Cengkok musik yang satu ini memang susah dilantunkan. Perlu latihan hingga berbulan-bulan untuk bisa menguasainya.

Setidaknya, begitulah pengakuan para penyanyi keroncong dari berbagai daerah peserta Peksiminas (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) XIV 2018, di Concert Hall ISI (Institut Seni Indonesia) Jogjakarta, Kamis (18/10).

Duta seni BPSMI (Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia) Bali, Ni Made Diahpujawati misalnya, kepada wartawan mengatakan, untuk bisa tampil maksimal dirinya mempersiapkan diri secara maksimal mengikuti latihan selama tiga bulan. “Kesulitannya menghafal lagu dan cengkok. Selama ini saya tidak pernah nyanyi lagu keroncong,” ungkap mahasiswi ISI Denpasar itu.

Mahasiswi kelahiran Denpasar, 24 Januari 1998, itu mengaku terbiasa membawakan lagu seriosa, jazz, dan pop. Berkat tekad yang kuat dia berhasil mempelajari keroncong dan terpilih mewakili Bali ke ajang bergengsi di Jogjakarta itu.

Meski mengaku kesulitan, namun Diahpujawati ternyata pernah menjadi pemenang Bintang Radio Lagu Keroncong tahun 2014 tingkat Nasional yang digelar di Kupang. Di hadapan dewan juri dan penonton Peksiminas, dia membawakan lagu wajib Keroncong Tanah Airku.

“Musik Keroncong sudah dilupakan di kalangan anak muda karena lagu-lagunya dianggap jadul dan kuno. Juga kurang bergengsi,” ujar Diahpujawati kemudian.

Kesulitan serupa dirasakan Yuni, duta seni asal Universitas Cenderawasih, Papua. Berbeda dengan Diahpujawati duta seni asal Bali, itu Yuni mengaku cukup belajar selama dua minggu.

Meski selama ini aktif di paduan suara gereja serta sering membawakan lagu Jazz, Yuni pun mengalami kesulitan saat menghadapi lagu Keroncong terutama cengkoknya. “Belajarnya sulit. Di Papua tidak ada lagu Keroncong,” katanya.

Menurut Yuni, musik Keroncong sepertinya kurang populer di kalangan anak muda bahkan terkesan redup dibandingkan dengan perkembangan kekinian. Yang pasti Yuni mengaku senang bisa mewakili daerahnya tampil di Peksiminas XIV 2018, di Jogjakarta.

Jogjakarta sebagai tuan rumah menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta asal 33 provinsi yang mengikuti 16 tangkai lomba seni hingga penutupan sekaligus pengumuman pemenang yang dijadualkan digelar di gedung Driyarkara Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta, Sabtu (20/10). (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan