Tanggungjawab Besar Di Balik Akreditasi

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr Haedar Nashir.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr Haedar Nashir.

JOGJA (jurnaljogja.com) – Tak mudah bagi perguruan tinggi menyandang akreditasi A institusi. Ada tanggungjawab besar di balik itu semua. Terkait tatakelola, profesionalitas, hingga kompetensi di dalamnya. “Tak terkecuali bagi lima perguruan tinggi Muhammadiyah yang saat ini telah mengantongi Akreditas A Institusi,” ungkap Ketua Umum PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah, Dr Haedar Nashir, pada acara syukuran akreditasi A bagi UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, di Islamic Centre (Kampus IV UAD), Banguntapan, Jogjakarta, Selasa (14/11).

Selain bersyukur, lanjut Haedar, Muhammadiyah pun ikut merasa gembira dengan akreditasi tertinggi bagi sebuah perguruan tinggi bagi UAD. “Tentu itu bukan pencapaian yang mudah. Sekaligus diharapkan agar UAD mampu berperan sebagai salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah yang mampu mencerdaskan umat dan bangsa. Juga sebagai pusat pembinaan karakter umat dan bangsa,” katanya.

Ada tanggungjawab besar di balik Akreditas A itu. “UAD harus lebih berkualitas, ke depannya. Harus mampu mengedepankan profesionalitas dan obyektif dalam segala urusan. Artinya, harus mengutamakan meritokrasi. Karena itu semua berkaitan dengan integritas moral, akhlak, maupun integritas intelektual. Kita boleh tidak punya apa-apa, tapi jangan sekali-kali kehilangan integritas. Itu marwah, kehormatan yang harus dijaga. Termasuk di kampus ini,” pesan Haedar kemudian.

Bagi lima PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah) di seluruh Indonesia yang saat ini mengantongi Akreditasi A, Haedar mengharapkan ditingkatkan lagi tingkatannya. “Harus mulai menyumbangkan pemikiran-pemikiran strategis bagi Muhammadiyah, sebagai kekayaan pemikiran. Harus diakui hingga saat ini masih sangat kurang jumlah pakar Muhammadiyah yang menjadi rujukan orang luar,” ujar Haedar.

Selain lima PTM yang saat ini telah mengantongi Akreditas A, berikutnya akan ada dua PTM lagi yang segera menyusul. “Muhammadiyah saat ini memang sedang fokus membangun pusat keunggulan, di pendidikan tinggi maupun di jenjang pendidikan yang lain. Untuk jenjang sekolah dasar, mungkin masih bisa bersaing. Tapi untuk jenjang taman kanak-kanak, tak ada satu pun yang masuk di urutan 50 besar. Padahal, Muhammadiyah memiliki tak kurang dari tiga ribu ABA. Bahkan menjadi perintis di jenjang pendidikan itu,” tutur Haedar lebih jauh.

Dr Achmad Nurmandi dari Majelis Dikti PP Muhammadiyah, sekaligus pendamping UAD dalam meraih Akreditasi A mengemukakan, pencapaian UAD ini cukup membanggakan karena menjadi salah satu dari 57 pergurun tinggi se Indonesia yang saat ini mengantongi Akreditas A Institusi. “Tak gampang meraih akreditasi itu. Tapi, yang juga cukup menggembirakan, pimpinan UAD mau belajar sehingga jalannya menjadi terbuka,” katanya.

Dengan akreditasi yang telah dikantongi saat ini, Nurmandi mengharapkan, UAD harus mulai menunjukkan diri sebagai perguruan tinggi yang memiliki standar global. Agar dikenal pula di dunia global. “Pengalaman saya selama ini selalu saja harus menjelaskan kepada orang-orang luar manakala menyebut perguruan tinggi Muhammadiyah, karena memang tak ada di dalam peta mereka. Tentu, kondisi seperti ini harus diubah,” papar Nurmandi.

Majelis Dikti PP Muhammadiyah, tandas Nurmandi, akan terus mendorong lima PTM yang telah mengantongi akreditasi A untuk terus meningkatkan jumlah publikasi ilmiah. Dari seluruh PTM se Indonesia, hingga saat ini hanya memiliki 752 dokumen yang terindeks Scopus. Ia membandingkan dengan perguruan tinggi lain yang lebih ‘kecil’ justru memiliki 1.500 dokumen dengan indeks Scopus. “Tak bisa tidak. Kita harus segera meningkatkan kualitas. Hanya dengan kualitas kita pasti tidak akan diremehkan. Tak dipandang sebelah mata oleh orang lain.”

Rektor UAD Dr Kasiyarno MHum bertekad akan terus meningkatkan kualitas dosen, dengan mendorong mereka untuk segera meraih gelar doktor. UAD tahun ini juga menargetkan akan memiliki 10 orang guru besar. “Mengenai akreditas A, itu semua tak lepas dari kerja keras seluruh sivitas akademika. Ada etos kerja yang terus dipegang oleh seluruh komponen dosen, karyawan, maupun mahasiswa,” ungkapnya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan