Tantangan Media Cetak Sangat Besar

IMG_20170315_180853
JOGJA (jurnaljogja.com) – Pakar komunikasi Ashadi Siregar mengakui, tantangan media arus atas sangat besar terutama media cetak. Ini karena ongkos produksinya mahal, juga berbagai iklan diambil buzzer media sosial.
   Faktor lain perilaku owner atau pemilik. Tak jarang owner memerintahkan bawahannya untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. ”Sehingga pembaca malas berlangganan,” katanya dalam diskusi kebangsaan di Tembi Rumah Budaya, Jalan Parangtritis, Bantul, Selasa (28/2).
   Dalam diskusi  yang  digelar Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta itu mengusung tema “Kebangsaan Dalam Media Massa”. Menampilkan pula pembicara Imam Anshori Saleh.
    Menurut Ashadi, kalau sekarang dibicarakan relevansi kebangsaan dengan media massa di Indonesia, maka ada baiknya dilihat kedudukan media massa sebagai piranti komunikasi dalam masyarakat. “Komunikasi secara umum dikenal dalam dua dinia, yaitu arus atas berupa komunikasi massa, dan arus bawah berupa komunikasi sosial,” sebutnya.
    Komunikasi massa, lanjutnya, adalah kegiatan oleh komunikator bersifat institusional, berlangsung dengan penggunaan piranti media massa. Sedangkan komunikasi sosial berupa komunikator bersifat personal dengan media yang berlangsung dalam interaksi sosial (media sosial).
     Sementara Imam Anshori Saleh sebelumnya menyebutkan, para tokoh kunci pergerakan kebangsaan dan nasionalisme, adalah tokoh pers. Artinya, pembangunan bangsa peran pers sangat besar. Posisi mereka dalam struktur pers umumnya pemimpin redaksi (hoofdredakteur) atau paling rendah redaktur. HOS Tjokroaminoto yang dikenal sebagai salah satu ‘guru pergerakan’ adalah pemimpin redaksi ‘Oetoesan Hindia’ dan ‘Sinar Djawa’.   “Tiga Serangkai Dauwes Dekker, Ki Hadjar Dewantara, dan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo menukangi De Express,”  sebutnya.
   Bahkan Semaoen, lanjut Imam Anshori Saleh, di usia 18 tahun sudah memimpin Sinar Djawa yang kemudian berubah menjadi Sinar Hindia. Maridjan Kartosuwiryo menjadi reporter dan redaktur iklan di Fadjar Asia.
   Sebelum berkonsentrasi mengurus dasar pendidikan, Ki Hadjar Dewantara adalah pemimpin redaksi Persatuan Hindia dan bahu membahu bersuara dalam majalah Pemimpin. Adapun Soekarno menjadi Pemimpin Redaksi Persatuan Indonesia dan Fikiran Ra’jat. Setelah pulang dari Belanda dan menjadi  Pemimpin Redaksi Majalah Indonesia Merdeka dalam Perhimpunan Indonesia (PI), Mohammad Hatta dan dibantu Sjahrir menakhodai Daulat Ra’jat.  Bahkan Amir Syariffudin dalam Partindo menjadi  Pemimpin Redaksi Banteng serta masih banyak lagi. (bam)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan