Tapa Mbisu Mubeng Beteng Meruwat NKRI

Mubeng Beteng: Endardi (dua kanan) dan Sukabiwata (tengah) didampingi anggota Janji Bakti NKRI lainnya.

Mubeng Beteng: Endardi (dua kanan) dan Sukabiwata (tengah) didampingi anggota Janji Bakti NKRI lainnya.

JOGJA – Tak kurang dari 500 orang dari 24 elemen masyarakat menggelar laku spiritual Tapa mBisu Mubeng Beteng Kraton Jogjakarta, Kamis (24/1) malam, atau malam Jumat Kliwon. Laku budaya dimaksudkan untuk menyatukan seluruh komponen masyarakat demi tegaknya kedaulatan NKRI.

“Melalui laku itu kami berdoa sekaligus mengharapkan prediksi akan terjadinya kericuhan, kekisruhan di tahun politik ini tidak menjadi kenyataan,” ujar ketua laku budaya Janji Bakti NKRI, Endardi, didampingi sekretaris Sukabiwata, dan beberapa anggota yang lain, di Jogjakarta, Rabu (23/1).

Kendati mendoakan untuk tetap tegaknya NKRI di tahun politik, ini namun Endardi menegaskan, tidak akan ada satu pun atribut partai politik dalam kegiatan malam itu. “Kami dari Janji Bakti NKRI inipun sama sekali tidak memiliki afiliasi dengan capres-cawapres manapun,” tuturnya kemudian.

Laku spiritual ‘terpaksa’ dilakukan, menurut Endardi, karena situasi akhir-akhir ini telah menunjukkan lunturnya adat ketimuran yang kita miliki. “Dalam politik sudah cukup jelas. Kami berdoa agar masyarakat tak terbeli. Agar menentukan pilihan benar-benar sesuai hati nurani,” katanya.

Penggagas laku budaya itu meyakini, jika pemilih berdaulat maka negara akan kuat. “Melalui perspektif spriritual, kami ingin menggugah kembali sumberdaya batin yang selama ini tidak didayagunakan agar kembali muncul,” timpal Sukabiwata.

Tapa mbisu bukan berarti kami hanya akan diam tidak melakukan apapun. Kami akan melantunkan doa meski dalam hati. “Kami hanya tidak ingin banyak bicara. Tidak asal riuh seperti di banyak media sosial akhir-akhir ini. Kami ingin tak sekadar wicara, tapi micara. Tolong dibedakan,” tutur Sukabiwata.

Beberapa elemen masyarakat yang telah memastikan akan turut serta, antara lain Banser, FKPPI, komunitas Rumah Budaya, perkumpulan Honggodhento, Paksikaton, dan masih banyak lagi. “Bahkan masih ada beberapa elemen yang menyatakan akan ikut berpartisipasi,” ujar Endardi.

Diawali dengan lantunan kidung Pameling, prosesi dilanjutkan dengan mubeng beteng melawan arah jarum jam. “Usai mubeng beteng, akan kami lakukan prosesi pencucian bendera Merah Putih menggunakan air dari tujuh sumber mata air plus air dari Laut Selatan,” jelas Sukabiwata kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan