Target 23 Persen EBT Mustahil Tanpa Nuklir

IMG_20160901_163443
Anggoro Rulianto/Jurnal Jogja
Kepala Batan Prof Dr Djarot Sulistyo Wisnubroto
JOGJA – Peraturan Pemerintah No 79/2014 tentang Kebijakan Energi Nasional menyatakan sampai dengan tahun 2025, batubara masih memberikan kontribusi signifikan sekitar 30 persen untuk memenuhi kebutuhan energi, sementara target kontribusi EBT (Eneri Baru Terbarukan) sebesar 23 persen.
“Target EBT pada 2025 itu sulit tercapai jika hanya mengandalkan energi terbarukan. Perlu pengembangan PLTN, pusat listrik tenaga nuklir,” tandas Kepala Batan (Badan Tenaga Nuklir Nasional), Prof Dr Djarot Sulistyo Wisnubroto, saat menyampaikan pidato ilmiah pada dies natalis ke-52 FMIPA UNY (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta), di kampus setempat, Kamis (1/9).
Sebagian kalangan, ungkap Djarot, menyatakan optimisme, memang. Antara lain, karena potensi panas bumi di Indonesia sekitar 29 GW, potensi hidro dan biofuel yang cukup, serta sebagai negara tropis mendapatkan energi surya yang berlimpah.
Namun, energi terbarukan tetap saja mempunyai berbagai tantangan terkait mahalnya harga listrik sehingga membutuhkan subsidi dari pemerintah, serta lokasi yang terpencar sehingga sulit masuk dalam jaringan yang ada. “Tantangan lain, kapasitasnya yang tak terlalu besar atau juga adanya benturan kepentingan pemanfaatan lokasi yang menyebabkan potensi tersebut tak sepenuhnya bisa dimanfaatkan,” tandas Djarot.
Kendati begitu, secara prinsip, energi terbarukan harus diupayakan sebesar-besarnya dan harus selalu didukung. Kelompok anti nuklir sering menyatakan, nuklir terlalu dipaksakan, sementara energi terbarukan perkembangannya tidak beranjak dari satu dekade yang lalu.
“Dalam hal ini, pendapat tersebut ada benarnya. Pemerintah harus mengedepankan energi terbarukan seiring dengan pemanfaatan energi nuklir. Uniknya, pemanfaatan energi nuklir di Indonesia akan jauh lebih mudah bila pemerintah juga sungguh-sungguh mengupayakan pemanfaatn energi terbarukan,” papar Djarot kemudian.
Pada kesempatan itu, Dekan FMIPA UNY Dr Hartono MSi menyampaikan laporan yang diberi tajuk ‘Peran MIPA dalam Pengembangan Energi Alternatif. Termasuk di dalamnya laporan mengenai pencapaian prestasi mahasiswa dan dosen, pencapaian kegiatan ilmiah yang diselenggarakan berbagai unsur di lingkup FMIPA, sejumlah kerjasama dengan berbagai instansi dalam maupun luar negeri, dan berbagai prestasi serta pencapaian lainnya. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan