Teater Klasik Korea Mampir Ke UKDW

Teater Korea: Grup teater Goryeonggun, Korea Selatan menampilkan Cerita Cinta Pung Dong, di kampus UKDW, Jogjakarta, Jumat (18/5).

Teater Korea: Grup teater Goryeonggun, Korea Selatan menampilkan Cerita Cinta Pung Dong, di kampus UKDW, Jogjakarta, Jumat (18/5).

JOGJA – Mengenalkan sekaligus mempererat hubungan baik antara Korea dengan Indonesia, UKDW (Universitas Kristen Duta Wacana) Jogjakarta bekerjasama dengan KCC (Korean Cultural Center) Sejong, menampilkan Teater Klasik Korea: Cerita Cinta Pung Dong, di kampus setempat, Jumat (18/5). Sekaligus menandai dibukanya Pusat Budaya dan Bahasa Korea, UKDW.

“Bagi yang berminat belajar bahasa Korea, segera saja mendaftar,” ujar Andreas dari Pusat Pelatihan Bahasa UKDW, di hadapan mahasiswa dan dosen yang menyaksikan pertunjukan teater klasik Korea tersebut. Pendaftaran untuk pelatihan bahasa akan dibuka pada 4 Juni 2018. Pusat Budaya dan Bahasa Korea itu merupakan tindak lanjut kerjasama UKDW dengan KCC Sejong, sebuah yayasan yang didirikan di Jogjakarta pada 2008 guna mengembangkan hubungan dan pertukaran budaya antara Korea dan Indonesia.

Pusat Budaya dan Bahasa Korea nantinya akan menjalankan kegiatan pengenalan budaya Korea serta memberikan program beasiswa bagi anak-anak SD dan SMP. Pun, akan melayani kursus bahasa Korea yang terbagi dalam kelas umum, kelas privat, kelas anak-anak, kelas ujian EPS-TOPIK, kelas ujian TOPIK. “Menyediakan pula informasi beasiswa dari pemerintah Korea dan universitas-universitas di Korea,” jelas Andreas kemudian.

Kim Tae-Seok selaku sutradara Cerita Cinta Pung Dong menuturkan, teater klasik atau tradisional Korea biasanya dipentaskan di tanah lapang, di alun-alun, misalnya. “Boleh dikata merupakan pertunjukan teater terbuka atau interaktif dengan penonton, sehingga penonton, siapa pun, bisa ikut bermain musik, menyanyi, bahkan bisa iku bermain pula,” ujarnya.

Cerita Cinta Pung Dong yang diusung ke kampus UKDW itu dimainkan oleh grup teater Goryeonggun, sebuah grup teater klasik Korea yang berasal dari kabupaten Goryeonggun provinsi Gyeongsangnamdo Korea Selatan. “Kabupaten tersebut terkenal sebagai kota sejarah kerajaan Gaya Agung,” papar Tae-Seok kemudian.

Pertunjukan tradisional Korea tersebut menampilkan berbagai lagu rakyat tradisional Korea, tarian, dan musik. Pertunjukan di hadapan sivitas akademika UKDW itu menampilkan aksi yang memaksimalkan gerak dan meminimalkan dialog sehingga memudahkan orang asing yang tidak tahu bahasa Korea untuk memahami dan menikmati isi pertunjukan. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan