Teliti Majalah Hai, Muria Endah Raih Gelar Doktor

JOGJA (jurnaljogja.com) – Sebagai majalah dengan segmen remaja laki-laki, Hai membangun wacana seksualitas remaja laki-laki yang ambivalen. Hal tersebut terlihat dalam analisis wacana kritis yang dilakukan pada artikel dan rubrik seksualitas yang dipublikasikan pada penerbitan antara tahun 1995-2004.
Dalam mempertahankan disertasinya untuk meraih derajat doktor, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Muria Endah Sokowati menyebutkan, setidaknya ada tiga bentuk ambivalensi wacana seksualitas remaja laki-laki yang muncul dalam Majalah Hai. Pertama, ambivalensi terimplemenasikan saat Hai gemar menggunakan tema-tema kontroversi, namun isinya justru menunjukkan hal yang kontradiktif.  “Slogan-slogan ‘seks adalah pilihan’ atau ‘seks itu nikmat’ adalah contohnya,” tunjuknya dalam  promosi doktor Program Studi Kajian Budaya dan Media di Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta, Senin (27/6).
Kedua, lanjut Muria Endah, adanya inkonsistensi gagasan pada tema-tema yang sama. Hal ini ditemukan ketika Hai mendiskusikan tentang  relasi laki-laki dan perempuan. Dalam hal virginitas misalnya, Hai menggugat norma dominan yang hanya menuntut virginitas dari pihak perempuan. “Hai justru menggagas virginitas adalah sama pentingnya bagi laki-laki dan perempuan.”
Disertasi yang disampaikan promovenda berjudul “Wacana Maskulinitas Dan Seksualitas Remaja Laki-Laki Dalam Artikel Dan Rublik Seksualitas Majalah Hai Tahun 1995-2004”. Menurut dia,  menganggap virginitas sama pentingnya bagi laki-laki dan perempuan justru inkonsisten dengan perspektif Hai yang menganggap perempuan berperan sebagai controller dalam aktivitas seksual yang terjadi, atau tetap memposisikan perempuan sebagai objek. Ketiga adalah strategi empati, yaitu upaya Hai dalam berposisi di antara pihak-pihak yang secara kultural berada di bawah dominasinya, yaitu perempuan dan kelompok-kelompok homoseksual. Strategi tersebut memberi perhatian, kepedulian dan ruang para perempuan. Juga respek dan tidak memberikan stigma yang berlebihan pada kelompok-kelompok homoseksual. “Namun strategi tersebut justru menunjukkan ideologi maskulin hegemonik Hai,” sebutnya.
Maria Endah mengatakan, ambivalensi dalam mewacanakan seksual remaja laki-laki merupakan hasil dari negosiasi dari diskursus tentang sakralisasi seks yang dibawa oleh norma-norma sosial dan agama, gagasan revolusi seksual global dan perspektif kesehatan reproduksi. “Negosiasi diskursus-diskursus seksualitas merupakan strategi Hai untuk bertahan dalam konteks ekonomi, sosial dan politik,” pungkasnya. (bam)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan