Telkomnika UAD Kokohkan Kualitas Internasional

(kiri-kanan) Wakil Rektor IV UAD Prof Sarbiran, Ilham Habibie, Tole Sutikno

(kiri-kanan) Wakil Rektor IV UAD Prof Sarbiran, Ilham Habibie, Tole Sutikno

JOGJA – Jurnal ilmiah Telkomnika milik UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta terus mengokohkan sekaligus meningkatkan kualitas secara nasional bahkan di mata internasional. Tidak ingin maju sendirian, Telkomnika menggandeng beberapa perguruan tinggi dengan mengundang mereka pada workshop dan konferensi internasional, di Jogjakarta, 18-21 September 2018.

Posisi Telkomnika saat ini ada pada tataran Q3, Kuartil-3. Artinya, 51-75 persen artikel di dalamnya masuk kategori terbaik secara nasional. “Ke depan, kami ingin meningkatkan kualitas tersebut,” ujar Editor in Chief Telkomnika, Tole Sutikno PhD, di sela 1st International Conference and Workshop on Telecommunication, Computing, Electrical, Electronics, and Control, di Hotel Royal Ambarrukmo, Jogjakarta, Selasa (18/9).

Tak kurang dari 220 orang peserta asal 19 negara ikut berpartisipasi. Sejumlah makalah juga dipresentasikan, selain makalah utama dari Prof Dr Nadia Magnenat Thalmann (Nanyang Technological University, Singapore dan University of Geneva, Switzerland), Dr Ing Ilham Akbar Habibie (Presdir PT Ilthabi Rekatama, Indonesia), Prof Dr Er Meng Joo (NTU, Singapore), dan Prof Dr Daniel Thalmann (Ecole Polytechnique Federale de Lausanne, Switzerland).

“Melalui acara tersebut, kami ingin para peserta bisa saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Terutama terkait lima bidang telekomunikasi, komputasi, kelistrikan, elektronika, dan kontrol yang diseminarkan. Lebih menarik ada pula sesi tutorial untuk penulisan atau publikasi ilmiah di jurnal internasional,” tutur Tole kemudian.

Forum yang rencananya akan dilangsungkan setiap tahun itu, juga dimaksudkan untuk memperpendek kesenjangan antara perguruan tinggi dengan dunia industri. “Karena itu, kami undang pula beberapa pelaku usaha serta mahasiswa untuk menjadi peserta,” ujar Tole seraya menyatakan, kemungkinan tahun depan akan mengangkat topik renewable energy.

Ditemui sebelum menyampaikan makalahnya, Ilham Habibie mengatakan, telekomunikasi, komputasi, kelistrikan, elektronika, dan kontrol merupakan lima bidang yang berada di belakang era disrupsi sekarang ini. “Karena itu, kita semua, terutama generasi muda perlu mengantisipasi, memperkirakan ke mana perkembangan industri berikutnya,” katanya.

Berawal dari revolusi industri 1.0 ditandai dengan mekanisasi, kemudian 2.0 dengan elektrisiti, berlanjut 3.0 komputasi, maka revolusi 4.0 saat ini disebut-sebut sebagai era internet dengan big data. “Kita tidak tahu kapan revolusi 5.0 akan terjadi, tapi nampaknya perubahan itu dari masa ke masa semakin pendek,” tutur Ilham kemudian.

Kendati perubahan begitu cepat, Ilham optimis, generasi muda Indonesia akan siap untuk menghadapinya. “Mau tidak mau memang harus begitu jika tak ingin ketinggalan terus. Saya optimis kita memiliki peluang, meski semuanya harus diupayakan. Anak-anak muda kita mampu,” tegas putera mantan Presiden BJ Habibie itu. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan