Terbuka Lebar Peluang Tenaga Nuklir

STTN: Kepala BATAN Djarot Sulistio Wisnubroto (depan kiri) dan Ketua STTN-BATAN Edy Giri Rachman Putra pada prosesi wisuda STTN-BATAN, di kampus setempat, Selasa (4/9).

STTN: Kepala BATAN Djarot Sulistio Wisnubroto (depan kiri) dan Ketua STTN-BATAN Edy Giri Rachman Putra pada prosesi wisuda STTN-BATAN, di kampus setempat, Selasa (4/9).

JOGJA – Teknologi nuklir tak hanya berkaitan dengan bom atau PLTN (Pusat Listrik Tenaga Nuklir). Banyak industri yang bersinggungan dengan teknologi nuklir. Dan itu terus berkembang di Indonesia. Di sisi lain, pasokan tenaga nuklir belum seimbang dengan kebutuhan yang ada. Terbuka lebar peluang untuk berkiprah sebagai tenaga nuklir.

“Yang menggembirakan, sumberdaya manusia kita siap menghandel dan mengelola teknologi nuklir. Tidak seperti yang banyak dikhawatirkan orang selama ini,” ujar Kepala BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) Prof Dr Ir Djarot Sulistio Wisnubroto, di sela wisuda STTN (Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir) Jogjakarta, di kampus setempat, Selasa (4/9).

Bapeten (Badan Pengawas Tenaga Nuklir), menurut Djarot, belakangan ini telah mengeluarkan tak kurang dari 8.000 izin bagi industri nuklir. Telah berkembang pesat dibandingkan lima tahun lalu yang hanya 4.000-an izin. “Industri nuklir jangan hanya diartikan sebagai PLTN. Tapi, segala peralatan yang memanfaatkan teknologi nuklir. Misal, peralatan medis yang memanfaatkan sinar-X, pengembangan benih di bidang pertanian, dan lain-lain,” katanya.

BATAN yang telah mengembangkan STTN sejak 1985, hingga kini baru meluluskan 1.500 orang tenaga nuklir. “Dibandingkan perkembangan industri yang bersinggungan dengan teknologi nuklir, tentu masih memerlukan tenaga yang begitu banyak. Bahkan jika ditambah dengan lulusan perguruan tinggi lain,” tutur Djarot.

Yang menggembirakan, imbuh Djarot, dari jumlah lulusan STTN tersebut sebesar 80 persen terserap di industri nuklir. Artinya, kemampuan dan kompetensi mereka memang sangat diperlukan. “Lebih menggembirakan lagi, menjadi salah satu bukti kita siap menghandel industri yang berkaitan dengan nuklir. Tidak seperti yang banyak dikhawatirkan orang selama ini,” tegasnya.

Ketua STTN-BATAN, Edy Giri Rachman Putra PhD menyatakan, sekolah tinggi yang dipimpinnya hanya mampu meluluskan 100 orang per tahun. Tentu masih sangat kurang guna memenuhi kebutuhan yang ada. Terlebih, iptek nuklir akan menjadi garda depan di masa mendatang. Selain, iptek luar angkasa.

Menjelaskan industri nuklir sangat luas, Edy pun mengemukakan, lulusan STTN telah tersebar di berbagai industri dan instansi. Selain di rumah sakit, bahkan sebagai wiraswasta, saat ini lulusan STTN ada juga yang bekerja di lembaga pemasyarakatan. “Lulusan kami ternyata sangat dibutuhkan seiring dengan adanya fasilitas pemindai yang memanfaatkan teknologi nuklir, bagi warga binaan maupun pengunjung di lapas,” ungkapnya.

Pada prosesi wisuda tersebut, STTN melepas 101 orang wisudawan. Terdiri dari 32 orang lulusan program studi Teknokimia Nuklir, 35 orang lulusan program studi Elektronika Instrumentasi, dan 34 orang lulusan program studi Elektro Mekanika. IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) tertinggi 3,88 diperoleh Thomas Candra Andrian program studi Elektronika Instrumentasi. Disusul Thera Sahara program studi Elektronika Instrumentasi dan Annisa program studi Teknokimia Nuklir dengan IPK 3,87.

Secara keseluruhan, predikat cumlaude diperoleh oleh 45 wisudawan. Sebanyak 12 orang dari program studi Teknokimia Nuklir, 10 orang program studi Elektronika Instrumentasi, dan 15 orang program studi Elektro Mekanika. “Salah satu daya saing sekaligus menjadi keunggulan STTN, lulusannya dibekali dengan sertifikat SIB PPR (Surat Izin Bekerja Petugas Proteksi Radiasi). Sebuah lisensi yang wajib dimiliki pengguna zat radioaktif, industri maupun lembaga yang memanfaatkan zat radioaktif,” jelas Edy. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan