Ternyata Pemetaan Wilayah di DIY Belum Optimal

 IMG_20171007_140845
Dr KRT Nur Suharcasyo MT (paling kanan) saat menjadi moderator seminar ‘Potensi Geowisata Pendidikan Energi Di Indonesia’, di kampus UPN Veteran Jogjakarta, Jumat (6/10).
JOGJA – Pemetaan suatu wilayah sangat diperlukan agar pemanfaatan lahan bisa optimal. Nyatanya, upaya pemetaan semacam itu di DIY belum dilakukan secara optimal. Akibatnya, banyak potensi yang dimiliki kurang dapat difungsikan secara maksimal.
“Bantuk dan Gunung Kidul itu memiliki potensi energi baru terbarukan yang sangat besar. Sayang, pemetaannya hingga saat ini belum berjalan optimal,” ujar Kepala Pusat Kajian Geoteknologi Mineral UPN Veteran Jogjakarta, Dr KRT Nur Suharcasyo MT, di kampus setempat, Jumat (6/10).
Pemetaan, lanjut Suharcasyo, sangat penting sebagai langkah awal untuk pemanfaatan suatu lahan. “Melalui pemetaaan itulah akan diketahui potensi serta sumberdaya apa saja yang terkandung di wilayah tersebut. Baru setelah itu bisa dilakukan perencanaan untuk pemanfaatannya.”
Dari sisi bentangan alam, potensi DIY tidak kalah dengan yang dimiliki negara-negara lain. Terutama Bantul dan Gunung Kidul memiliki potensi besar untuk pengembangan energi baru terbarukan, seperti energi angin, matahari, maupun gelombang.
“Jika ada pemetaan yang jelas tentu pemanfaatan potensi tersebut secara optimal pun bisa diperoleh. Sekaligus jika bisa dikembangkan secara baik, akan mampu menciptakan ketahanan energi di perdesaan,” tutur Suharcasyo.
Bukan hanya energi baru terbarukan, potensi untuk pengembangan geowisata pendidikan energi di dua kabupaten itu pun tidak kalah besarnya. “Karena memang kondisi dua wilayah itu sangat bagus dan menguntungkan,” tandas Suharcasyo.
Dengan demikian, pembangunan sumber energi di suatu daerah bisa sekaligus menjadi pusat pengembangan pendidikan dan destinasi wisata. “Tentu, untuk sampai ke sana, memerlukan sinergi besar oleh semua pihak yang berkepentingan. Demi kesejahteraan bersama,” papar Suharcasyo di sela seminar ‘Potensi Geowisata Pendidikan Energi Di Indonesia’ itu.
Pengembangan atau pemanfaatan wilayah seperti itu, menurut Suharcasyo, tidak akan mengganggu kenyataan bahwa Indonesia pada dasarnya merupakan negara agraris. “Karena itulah perlu ada pemetaan secara optimal sehingga pemnfaatannya tidak akan saling menggusur,” katanya.
Atau, pengembangan energi baru terbarukan maupun geowisata di suatu wilayah, bisa dilakukan di lahan-lahan kritis yang selama ini tidak dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. “Dengan demikian tidak akan saling mengorbankan apalagi menghilangkan statussebagai negara agraris. Semua harus saling berdampingan dan saling menguntungkan,” tegas Suharcasyo. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan