Teror Selandia Baru Tak Surutkan Kerjasama UAD

Telewicara: Rektor UAD, Kasiyarno (kiri) saat melakukan telewicara dengan Irfan Yunianto dari Selandia Baru.

Telewicara: Rektor UAD, Kasiyarno (kiri) saat melakukan telewicara dengan Irfan Yunianto dari Selandia Baru.

JOGJA – Salah seorang dosen UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta menjadi korban aksi teror di Selandia Baru, meski hanya mengalami trauma psikis dan tak mengalami cidera fisik. Kendati begitu, teror tersebut tak menyurutkan kerjasama UAD dengan perguruan tinggi di Negeri Kiwi itu.

“Sudah beberapa tahun terakhir ini kami memang telah menjalin kerjasama pendidikan dengan perguruan tinggi di Selandia Baru. Dan aksi teror di kota Christchurch itu tak mempengaruhi kerjasama tersebut,” tegas Rektor UAD, Dr H Kasiyarno MHum, di kampus setempat, Senin (18/3).

Bahkan dalam semester inipun akan ada seorang dosen prodi Pendidikan Bahasa Inggris yang akan berangkat ke Selandia Baru. Korban aksi teror, dosen Pendidikan Biologi UAD, Irfan Yunianto, pun tak akan ditarik pulang. “Tetap akan merampungkan pendidikannya di sana,” ujar Kasiyarno kemudian.

Terlebih sudah ada jaminan keamanan dari pemerintah setempat menyusul aksi teror tersebut. “Tapi kami mengaku prihatin dengan terjadinya aksi teror tersebut. Selandia Baru yang selama ini terkenal sebagai negara yang paling aman di dunia, mengalami aksi teror juga,” tutur Kasiyarno.

Kepala KUI (Kantor Urusan Internasional) UAD, Ida Puspita mengemukakan, selama ini UAD telah menjalin kerjasama dengan dua universitas di Selandia Baru. Masing-masing dengan Otago University dan Messay University. “Kebetulan, Irfan saat ini sedang menjalani beasiswa di Otago University yang ada di Christchurch,” jelasnya.

Irfan mengaku luput dari tembakan teroris karena ketika itu tidak berada di ruang ibadah utama masjid An-Nur, Christchurch. “Saat itu saya di ruang lain ingin meletakkan jaket yang basah. Di Christchurch saat itu memang sedang turun hujan,” kisahnya saat melakukan telewicara dari Selandia Baru.

Tak terluka sedikitpun karena mampu memanjat pagar masjid setinggi dua meter dan berlindung di salah seorang rumah warga yang berjarak sekitar 50 meter, tapi Irfan mengaku merasakan trauma psikis jika mengingat peristiwa itu.

“Saya merasa trauma psikis ini tak akan hilang dalam waktu dekat. Tapi, selain bersyukur karena selamat, saya juga bersyukur ketika itu masih mampu berpikir jernih. Saya langsung kontak ke supervisor di kampus, ke KBRI, ke teman-teman yang lain untuk memperingatkan agar tak mendekat ke lokasi,” tutur Irfan kemudian.

Irfan pun mengisahkan, setelah lima jam bersembunyi di salah satu rumah warga setempat, ia bisa kembali pulang ke kediamannya di Selandia Baru dengan diantar petugas polisi setempat. “Saat ini semua pihak terus berupaya tegar guna menegaskan aksi teror tersebut telah gagal,” tandasnya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan