Terus Nambah RW Bebas Asap Rokok Di Kota Jogja

Tri Mardaya

Tri Mardaya

JOGJA (jurnaljogja.com) – Kesadaran untuk hidup sehat warga masyarakat kota Jogjakarta semakin tinggi. Paling tidak, hal itu tercermin dari makin bertambahnya jumlah RW (Rukun Warga) yang mencanangkan sebagai kawasan bebas asap rokok. Kendati begitu, penyakit degeneratif yang sebenarnya bisa dicegah dengan mengatur gaya hidup, masih juga mendominasi. Masih menjadi penyebab utama kematian.

“Promosi kesehatan masih perlu terus dilakukan. Salah satunya melalui karnaval kesehatan, mulai dari Balaikota hingga Titik Nol, menyambut Hari Kesehatan Nasional,” ungkap Kabid Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Jogjakarta, Tri Mardaya, kepada wartawan, di balaikota setempat, Rabu (22/11).

Yang menggembirakan, lanjut Mardaya, inisiatif menjadikan RW sebagai kawasan bebas asap rokok datang dari masyarakat setempat. Bukan dari permintaan atau bahkan paksaan pemerintah. Hingga saat ini sudah ada 130 RW di kota Jogja sebagai kawasan bebas asap rokok, dari total 616 RW yang ada. “Capaian itu sudah cukup membanggakan karena masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan wilayah lain,” tegasnya.

Selain secara umum lebih menyehatkan masyarakat, pencanangan kawasan bebas asap rokok itu juga berdampak pada individu. “Bukannya melarang warga untuk merokok, namun ketika merokok mereka lebih tertata. Misalnya tidak merokok di dalam rumah maupun tidak merokok pada pertemuan warga. Semoga ke depan makin banyak RW yang menyusul,” harap Mardaya.

Begitu pula mengenai karnaval tersebut. Antusias masyarakat sangat besar. Bahkan 90 persen pendanaan merupakan swadaya masyarakat. Dari kalurahan, dari dunia usaha, dunia pendidikan, maupun rumah sakit. Hingga saat Mardaya memberikan penjelasan, tercatat 60 mobil hias akan mengikuti karnaval kesehatan itu. “Mengingat keterbatasan waktu, pada saatnya nanti akan kami batasi maksimal delapan puluh mobil hias saja,” katanya.

Karnaval pada Jumat (24/11) dimulai pukul 15.00 WIB dari Balaikota Jogjakarta ke barat menuju Jalan Kenari, Jalan Gayam terus ke barat hingga Hotel Melia Purosani. Terus ke utara menuju hotel Garuda, ke selatan menyusuri Malioboro hingga berakhir di Titik Nol. “Silakan bagi masyarakat yang ingin menonton. Sekaligus mohon maaf bagi masyarakat yang terganggu karena sepanjang rute karnaval terjadi kemacetan,” ujar Mardaya kemudian.

Terutama, karnaval akan mengangkat tema sekaligus mempromosikan Germas (gerakan masyarakat untuk hidup sehat). “Kami ingin melalui karnaval, germas menjadi perilaku masyarakat. Namun tak semata masalah kesehatan yang akan kami angkat. Kami memperbolehkan tiap kalurahan untuk menampilkan potensi wilayah masing-masing. Misal potensi kerajinan, batik, hingga kuliner, dan lain-lain,” tandas Mardaya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan