Tinggi, Angka Kematian Ibu Melahirkan di Bantul

BANTUL (jurnaljogja) – Angka kematian ibu di Kabupaten Bantul, DI Jogjakarta (DIJ) menurun dari 14 kasus ibu meninggal selama 2014 menjadi 13 kasus pada 2015. Angka kematian ibu melahirkan ini disebutnya tinggi dibanding kabupaten-kota lainnya di DIJ. Salah satunya penyebabnya kurangnya kesadaran dari ibu hamil untuk deteksi dini atau melakukan pemeriksaan difasilitas kehatan yang ada mulai dari bidang hingga ke rumah sakit.

“Banyak kasus kematian ibu melahirkan terjadi karena kurangnya kesadaran dari ibu hamil untuk memeriksakan kesehatan kandungannya ke bidan, dokter kandungan,” kata Direktur Klinik Bunga Arsari Tri Wahyuni di Bantul, Minggu (3/4).
Menurut dia, keengganan ibu hamil untuk memeriksakan dini kehamilan disebabkan berbagai faktor. Salah satunya karena tidak punya biaya yang biasanya terjadi pada orang yang tidak mampu dan tidak memiliki jaminan kesehatan. “Ibu hamil pada keluarga yang tidak mampu enggan memeriksakan diri karena terbentur alasan biaya yang mahal. Padahal untuk biaya USG saja hanya ditarik Rp 30 ribu. Biaya yang tidak terlalu mahal,” katanya.
Padahal, dengan memeriksakan diri dengan USG akan diketahui keadaan janin yang ada di dalam rahim . Apakah janin dalam kondisi normal sehat ataupun mengalami gangguan. Begitu pula penyakit yang diderita ibu ketika memeriksakan diri akan diketahui. Apakah punya penyakit darah tinggi, ginjal, jantung atau pernafasan. “Ketika sudah diketahui kondisi janin dan ibunya, maka ketika akan melahirkan penanganannya akan lebih cepat dan tepat. Sehingga kematian ibu melahirkan bisa dicegah,” ujarnya.
Menurut Tri Wahyuni, paska ditutupnya Jampersal olehi pemerintah pada 2013 lalu, ibu hamil yang memeriksa secara dini menurun dratis, terutama bagi warga miskin yang tidak punya jaminan kesehatan seperti Kartu Indonesia Sehat ataupun BPJS Kesehatan. “Tidak semua warga miskin saat ini mengantongi KIS atau BPJS Kesehatan,” jelasnya.
Di Klinik Bunga Arsari yang melayani pemeriksaan kesehatan ibu hamil. Bagi keluarga yang memang tidak mampu dibebaskan dari biaya dan pihak klinik akan bekerjasama dengan kepala dusun untuk memastikan ibu hamil tersebut berasal dari keluarga tidak mampu. Diakui, keberadaan klinik yang berada di Dusun Sungapan, Desa Argodadi, Kecamatan Sedayu memang letaknya terpencil dan banyak warga miskin. Sehingga tidak mungkin menarik biaya ke warga yang tidak mampu secara ekonomi. (bam)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan