Tingkatkan Daya Saing Ditjen IKM Sediakan Rp 6 M

Gati Wibawaningsih

Gati Wibawaningsih

JOGJA – Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah, Kementerian Perindustrian meyakini rekstrukturisasi mesin dan peralatan akan mampu meningkatkan daya saing para pelaku IKM. Untuk menggenjot itu, Ditjen IKM menyediakan bantuan dana potongan untuk pembelian mesin dan/atau peralatan produksi.

“Kami memberikan bantuan dana berupa potongan harga bagi mesin dan atau peralatan yang sudah dibeli sebelumnya, kepada IKM yang bergerak di bidang pangan serta barang dari kayu dan furnitur,” ungkap Dirjen IKM dan Aneka, Kemenperin, Gati Wibawaningsih, di hadapan 100 IKM peserta Sosialisasi Restrukturisasi Mesin dan/atau Peralatan IKM, di Jogjakarta, Senin (10/12).

Nilai potongan atau reimburse sebesar 30 persen dari harga pembelian untuk mesin dan/atau peralatan buatan dalam negeri. Untuk mesin dan/atau peralatan buatan luar negeri, nilai potongan sebesar 25 persen. Sepanjang 2018 ini dana tersebut terserap lebih dari Rp 4,6 miliar bagi 38 IKM.

Sejumlah IKM tersebut tersebar di sembilan provinsi, masing-masing Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Penerima terbanyak pada jenis produk furnitur sebanyak 15 IKM, roti dan kue sebanyak tujuh IKM, dan kopi sebanyak enam IKM.

Untuk 2019 mendatang, Ditjen IKM menyediakan dana Rp 6 miliar untuk program restrukturisasi tersebut. “Mudah-mudahan terserap. Dan jika pengajuan IKM melebihi jumlah tersebut, kami siap merevisinya,” tutur Gati menjawab pertanyaan wartawan.

Mencermati jumlah IKM yang memanfaatkan dana potongan tersebut pada 2018, Gati mengakui, sosialisasi yang dilakukan melalui e-smart IKM masih belum sepenuhnya diakses para pelaku usaha. “Karena itu, kini kami lakukan lagi sosialisasi secara tatap muka seperti ini. Tapi, pada 2020 nanti, sosialisasi secara fisik seperti ini kami stop,” katanya.

Sosialisasi mulai 2020 mendatang hanya dilakukan secara digital melalui youtube. “Dana untuk sosialisasi secara fisik tidak sedikit. Lebih baik memanfaatkan teknologi digital sehingga dananya bisa dihemat dan bisa dipergunakan untuk menambah dana potongan,” papar Gati kemudian.

Kepala Disperindag DIY, Tri Saktiana mengemukakan, seringkali para pelaku IKM bukannya tidak mau memanfaatkan dana potongan tersebut. Tapi tidak tahu. Selain itu acapkali pula mereka tidak tahu mesin atau peralatan seperti apa yang mereka perlukan. “Ada ungkapan yang tahu tidak membutuhkan, yang membutuhkan tidak tahu,” tandasnya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan