TNI – Muhammadiyah Saling Puji

IMG_20170606_150924
Dari kanan, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr H Haedar Nashir MSi, dan Rektor UAD Dr Kasiyarno MHum duduk berjajar pada ‘Pengajian Kebangsaan’, di masjid Islamic Centre UAD Jogjakarta, Minggu (4/6) malam.
JOGJA – Di tengah isu keretakan kebhinnekaan, TNI (Tentara Nasional Indonesia) dan Muhammadiyah pun saling memmuji. Pimpinan dua lembaga itu menyatakan, TNI maupun Muhammadiyah memiliki peran besar dalam mempersatukan hingga NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) terbentuk.
“Tanpa peran para ulama, termasuk Muhammadiyah, maupun tokoh agama lain, barangkali Indonesia tak akan ada seperti sekarang ini,” ujar Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, saat berdiri di atas mimbar ‘Pengajian Kebangsaan’, di masjid Islamic Centre UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, Minggu (4/6) malam.
Pada rangkaian acara RDK (Ramadan Di Kampus) itu pula Ketua Umum PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah Dr H Haedar Nashir MSi menegaskan pentingnya keberadaan TNI di dalam menjaga kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. “Saya yakin komitmen TNI terhadap keindonesiaan, NKRI, dan Pancasila,” tuturnya ketika berbicara sebelum Panglima TNI naik mimbar.
Di hadapan ratusan, bahkan mungkin ribuan jamaah masjid yang hadir pada malam itu, Gatot kembali memaparkan betapa kaya negara Indonesia yang terletak di garis ekuator ini. “Hampir sebagian besar sumber energi, air, pangan di dunia ini ada di negara-negara ekuator termasuk Indonesia,” katanya.
Namun, lanjut orang nomor satu di jajaran TNI itu, kondisi itu pula yang menjadikan Indonesia sebagai negara incaran negara lain. “Jika kita tidak hati-hati dalam menjaga, negara kita ini bisa bahaya karena akan diperebutkan orang lain. Menjadi ajang persaingan,” ujar Gatot.
Kompetisi, di era teknologi informasi sekarang ini, tak lagi terjadi antar-negara tapi sudah mulai bergeser ke kompetisi antar-manusia. “Ketika kondisi semacam itu datang, akan terjadi migrasi penduduk dari satu negara ke negara lain guna menguasai sumber energi, air, dan pangan itu,” tegasnya.
Kalau mau jujur, imbuh Gatot, kita saat ini sebenarnya telah mulai menerima ‘serangan’ itu dalam berbagai bentuk meski kadang kita sendiri tak menyadarinya. “Melalui media sosial, seringkali kita menerima penetrasi orang lain tanpa kita menyadarinya,” ujarnya.
Gatot pun menyebut radikalisme dan terorisme sebagai contoh yang telah menyerang Indonesia saat ini. Sejak bom Bali hingga sekarang, telah terjadi peristiwa bom tak kurang dari 41 kali. “Tak semestinya kita sendiri saling bunuh, antar maupun inter-agama. Jangan sampai Indonesia porak-poranda. Jadikan Pancasila tetap sebagai dasar hukum paling tinggi,” pungkasnya. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan