Tradisi Jemparingan Patut Dilestarikan

 IMG_20171007_140728
Lambat laun tradisi memanah yang dilakukan dalam posisi duduk bersila mengenakan busana adat Jawa itu menyebar ke kerajaan sebelah. Seiring berjalannya waktu, juga dimainkan oleh rakyat biasa sebagai bagian dari hiburan dan juga pelestarian budaya yang sangat berharga.
“Dalam rangka melestarikan tradisi itu pula Kodim 0734/Yogyakarta beserta Pemkot Yogyakarta menggelar ‘Gladhen Hageng Jemparingan Ngayogyakarta’ tingkat nasional,” jelas Dandim 0734/Yka Letkol Inf Rudi Firmansyah didampingi Wawali Yogyakarta Heroe Purwadi, kepada wartawan, di Jogjakarta, Jumat (6/10).
Gladhen Hageng yang digelar di lapangan Kodim 0734/Yka, Minggu (8/10), diikuti 350 orang peserta. Dengan kategori anak-anak (klas 4-6 SD), kategori remaja (SMP dan SMA), serta kategori dewasa umum putera dan puteri. Berturut-turut penghargaan ‘Titis’ dari Dandim 0734/Yka, Walikota Yogyakarta, dan Danrem 072/Pamungkas Yogyakarta.
Jemparingan sekaligus untuk memperingati HUT TNI dan HUT ke-261 Kota Yogyakarta, ujar Rudi kemudian, diikuti oleh atlet jemparingan yang berasal dari berbagai daerah terutama yang dulu memiliki kerajaan. Antara lain Cirebon, Ternate,Aceh, Bali, Sumsel, dan Jogjakarta sebagai tuan rumah.
Melalui jemparingan itu pula Kodim dan pemkot mengajak seluruh komponen masyarakat melestarikan budaya Jogja dengan pesonanya yang kaya dan memukau itu. “Jemparingan harus terus dilestarikan turun-temurun dan dijadikan ikon untuk menanamkan pemahaman kepada generasi muda, Yogyakarta memang benar-benar sebuah daerah yang memiliki khasanah budaya yang lengkap,” tandas Rudi.
Sekaligus wahana silaturahmi dan komunikasi sosial Kodim dan Pemkot dengan seluruh komponen masyarakat sehingga terjalin keeratan hubungan emosional positif dan hubungan kerjasama. “Dengan demikian tercipta kemanunggalan TNI dan rakyat guna memelihara situasi yang kondusif serta meningkatkan daya tangkal terhadap segala bentuk ancaman. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan