Tumbuh Subur Pelanggaran Etika Bisnis

 IMG_20170806_104212
Tiga orang pembicara pada ICEBESS, di FE UNY.
JOGJA – Kasus suap, penggelapan pajak, penggelembungan harga, pengubahan aturan untuk keuntungan sendiri, serta berbagai kasus pelanggaran etika bisnis lainnya masih tumbuh subur di Indonesia. Kondisi sosial politik dan pemerintahan, antara lain menjadi penyebab masih maraknya berbagai kasus bisnis di Indonesia.

“Negara yang masih berkembang, demokrasi lemah, birokrasi berbelit-belit dan menyusahkan, atau rezim pemerintah yang terlalu kuat, merupakan lahan empuk bagi munculnya perilaku bisnis yang tidak etis,” ujar dosen asal UGM, Dr Sumiyana, pada seminar ICEBESS (International Conference on Ethics of Business, Economics, and Social Science) 2017, di FE UNY, Jumat (28/7).

Kepada lebih dari 100 peserta mahasiswa S1, S2, hingga S3, beserta dosen, itu Sumiyana mengungkapkan, berbagai praktik serta alur kecurangan yang kemudian bisa dikategorikan sebagai pelanggaran etika bisnis di Indonesia.

Ia pun mencontohkan, mulai dari penyaluran kredit secara fiktif, penggelembungan harga sehingga menguntungkan pelaksana proyek, penggelapan pajak, pengubahan aturan hingga memungkinkan importir memasukkan komoditas tertentu, hingga kasus KTP Elektronik, dan dugaan manipulasi dalam perdagangan beras belakangan ini.

Pembicara lain, Dr Mohsin Shaikh dari SKN College of Engineering, India, mengupas seputar manajemen SDM di perguruan tinggi. “Ada beberapa tantangan bagi perguruan tinggi dalam era saat ini. Antara lain, pendanaan, jarak yang lebar antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan industri, globalisasi dan persaingan yang meningkat, serta penggunaan teknologi informasi,” urainya.

Dalam aspek SDM, ada beberapa tantangan bagi perguruan tinggi. Dalam hal perekrutan misalnya, beberapa perguruan tinggi mengalami masalah kekurangan SDM, penundaan dalam proses seleksi, hingga kurangnya pengalaman dalam proses wawancara.

Dalam pelatihan dan perkembangan, sering kurang pengetahuan dalam manajemen dan administrasi, tidak cukup pelatihan kepemimpinan. “Selain itu, kompensasi dan performance appraisal juga sering menjadi tantangan tersendiri bagi perguruan tinggi,” tambah Kepala Jurusan Manajemen di SKN College of Engineering, Pune, India itu.

Sedangkan Dr Jamalludin Helmi dari Universiti Sultan Azlan Shah, Malaysia, membahas pendidikan kewirausahaan bagi perguruan tinggi. “Mental kewirausahaan harus dibimbing dan dimiliki para mahasiswa. Sebagian besar peneliti sepakat kewirausahaan duapuluh persen berasal dari bakat dan delapanpuluh persen muncul dari pendidikan,” tandasnya.

ICEBESS 2017 juga menjadi sarana pemaparan makalah dari berbagai peneliti. Lebih dari 30 pemakalah menyampaikan tulisan ilmiahnya pada sesi paralel yang terbagi dalam lima kelompok. ICEBESS merupakan ajang ilmiah tahunan yang mengundang pemakalah dari dalam hingga luar negeri guna membahas berbagai isu seputar ekonomi, pendidikan, dan berbagai ilmu sosial. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan