Tuntas Pedestrian Sisi Timur Malioboro

Malioboro: Gubernur DIJ Hamengku Buwono X (duduk baju batik) menyempat duduk santai di area pedestrian Titik Nol, Selasa (9/1), menandai selesainya penataan sisi timur kawasan Malioboro, Jogjakarta.

Malioboro: Gubernur DIJ Hamengku Buwono X (duduk baju batik) menyempatkan duduk santai di area pedestrian Titik Nol, Selasa (9/1), menandai selesainya penataan sisi timur kawasan Malioboro, Jogjakarta.

JOGJA – Penataan Malioboro dengan membangun area pedestrian di sisi timur ruas jalan yang berada di jantung kota Jogjakarta itu telah tuntas. Termasuk depan Istana Negara Jogjakarta dan pembangunan toilet umum bawah tanah yang terletak di depan kantor Bank Indonesia. Menyusul pembangunan pedestrian sisi barat dimulai tahun ini. Dengan demikian, pada 2019 mendatang, revitalisasi Malioboro diharapkan tuntas seluruhnya.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono X bersama muspida setempat beserta walikota dan wakil walikota Jogjakarta berkenan menyusuri sisi timur dengan berjalan kaki dari kantor gubernuran di Kepatihan ke selatan hingga Titik Nol, Selasa (9/1), menandai tuntasnya pembangunan sisi timur Malioboro itu. Dilanjutkan meninjau toilet bawah tanah yang terletak beberapa puluh meter ke timur dari Titik Nol.

“Penataan Maliboro dimulai 2016. Tahap pertama mulai dari pedestrian depan hotel Garuda hingga pasar Beringharjo. Tahun 2017 dilanjutkan ruas Beringharjo hingga Titik Nol. Termasuk depan Istana Negara dan pembangunan toilet bawah tanah,” ungkap Plt Kepala Dinas PUP-ESDM (Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral) DIJ, Muhammad Mansur.

Penataan sisi barat, ujar gubernur, mestinya sudah bisa segera dimulai. Mulai dari rel kereta api stasiun Tugu di utara hingga ke selatan eks gedung bioskop Indra. “Penataan sisi barat Malioboro diharapkan akan bisa lebih menonjolkan fasad heritage dari bangunan atau gedung-gedung yang ada,” tandas HB X.

Mengenai kebersihan Malioboro yang masih banyak dikeluhkan, gubernur meminta untuk dimaklumi karena yang datang ke Malioboro bukan hanya warga kota tapi juga pendatang dari berbagai daerah. “Kalau petugas melihat ada orang membuang sampah, jangan dimarahi. Segera pungut saja sampahnya, pasti pembuang sampah itu akan malu sendiri dan menyadari tindakannya yang kurang benar,” pesan HB X.

Begitu pula PKL makanan dan minuman yang masih susah membedakan mana sampah kering, sampah basah, dan sampah yang mengandung minyak, pun harus dimengerti. Tidak usah dimarahi tapi diberi pengertian. “Khusus untuk pembinaan PKL ini mestinya pemkot jangan hanya mengundang pemiliknya. Akan lebih tepat jika pembinaan diberikan kepada para pelayan warung makanan dan minuman tersebut,” saran HB X kemudian.

Pengunjung Malioboro saat ini seakan dimanjakan, memang. Selain bisa duduk-duduk santai di area pedestrian, juga tak perlu repot jika ingin buang hajat dengan keberadaan toilet bawah tanah tersebut. Betapa tidak. Toilet setara dengan yang berada di hotel-hotel bintang lima itu dilengkapi pula dengan ruang laktasi, tempat ibu menyusui, serta eskalator khusus bagi kaum difabel.

Toilet dengan fasilitas pendingin ruangan itu memiliki 12 ruangan untuk perempuan dan enam ruangan untuk pria. Selain ruang laktasi dan fasilitas eskalator. “Toilet dengan eskalator khusus untuk kaum difabel ini baru kali pertama ada di Indonesia,” jelas Mansur seraya mengemukakan, penataan tahap kedua ruas pasar Beringharjo hingga Titik Nol, termasuk depan Istana Negara dan toilet bawah tanah menghabiskan dana Rp 23,1 miliar. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan