UAD Bongkar Joki Kedokteran

Joki: UAD berhasil membongkar praktik perjokian untuk masuk ke fakultas kedokteran. Rektor UAD Kasiyarno (dua kiri) dan beberapa panitia penerimaan mahasiswa baru sedang memperlihatkan sejumlah alat elektronik yang dipergunakan calon mahasiswa curang itu.

Joki: UAD berhasil membongkar praktik perjokian untuk masuk ke fakultas kedokteran. Rektor UAD Kasiyarno (dua kiri) dan beberapa panitia penerimaan mahasiswa baru sedang memperlihatkan sejumlah alat elektronik yang dipergunakan calon mahasiswa curang itu.

JOGJA – Fakultas Kedokteran agaknya masih menjadi favorit untuk kuliah. Terbukti panitia penerimaan mahasiswa baru UAD membongkar perjokian untuk masuk ke fakultas tersebut. Sayang, jokinya atau sindikat joki tersebut tidak tertangkap. Yang jelas, dengan terbongkarnya beberapa calon mahasiswa yang memanfaatkan jasa joki tersebut kredibilitas ujian masuk ke fakultas kedokteran UAD tetap terjaga. Alias tidak terpengaruh.

“Kami bersyukur, kecurangan calon mahasiswa segera terbongkar sehingga tidak mempengaruhi kredibilitas ujian masuk ke fakultas kedokteran. Nama yang ketahuan curang itu langsung kami coret. Sedangkan yang lain, yang tidak terlibat, tidak perlu mengulangi ujian masuk,” tutur Rektor UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, Dr Kasiyarno MHum, di kampus setempat, Senin (30/7).

Mengggunakan alat-alat elektronik seperti ear-piece, seperangkat wi-fi, kamera handphone, dan lain-lain, panitia PMB (penerimaan mahasiswa baru) UAD setidaknya mampu membongkar keterlibatan sembilan calon mahasiswa yang mengikuti ujian tulis masuk ke fakultas kedokteran gelombang III Juli ini di kampus I.

“Pada pemeriksaan fisik sebelum masuk ke ruang ujian, mereka bisa lolos karena menggunakan ear-piece yang diletakkan di lubang telinga agak ke dalam kemudian ditutup kerudung. Untuk mengeluarkan alat komunikasi itu pun harus menggunakan magnet,” ungkap Kepala Biro Akademik dan Admisi UAD, Dr Wahyu Widyaningsih MSi.

Tapi kemudian setelah meminta pengawas mencermati betul tingkah laku peserta ujian yang sekiranya mencurigakan, papar Wahyu, diketahui ada salah seorang peserta yang seringkali memaju-mundurkan kertas soal ujian di depan badannya. “Agaknya, peserta perempuan itu yang ditugasi memindai soal menggunakan kamera handphone yang disembunyikan di balik jaket,” jelasnya.

Peserta itu bisa lolos dari pemeriksaan fisik karena ia sengaja datang agak terlambat. “Setelah seorang ketahuan, akhirnya seluruh peserta diperiksa kembali dan ketahuan setidaknya ada sembilan peserta yang menggunakan alat komunikasi tersebut. Panitia kemudian menangkap satu orang lagi yang ujian di kampus IV,” jelas praktisi IT UAD, Imam Azhari SSi MSc, yang juga Kabid Administrasi dan Evaluasi Akademik UAD itu.

Sayangnya, joki yang mengiming-imingi para calon mahasiswa itu tidak tertangkap. Tapi kalau pun tertangkap, polisi juga kesulitan untuk menerapkan pasal hukumnya. “Pengalaman pada gelombang I yang juga menangkap dua orang joki, setelah dilaporkan ke polisi juga tidak bisa diproses hukum. Polisi kesulitan karena tidak ada pasal hukum tentang perjokian,” tutur Wakil Rektor II UAD, Safar Nashir.

UAD menduga, perjokian tersebut merupakan sindikat. Mereka juga bermodal. Setidaknya, alat-alat komunikasi yang berhasil disita itu senilai Rp 5 juta. Sindikat itu mendekati calon mahasiswa ketika sedang mendaftar. Atau menunggu calon mahasiswa yang keluar ujian pada gelombang sebelumnya. Setelah berhasil diiming-imingi, calon mahasiswa itu rata-rata dimintai Rp 150 juta sebagai jasa jika kemudian mereka diterima di fakultas kedokteran. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan