UAD Canangkan Program ‘100 Doktor’

(ki-ka) Dr Muklas MT, Dr H Kasiyarno MHum, Dr Budi Santosa

(ki-ka) Dr Muklas MT, Dr H Kasiyarno MHum, Dr Budi Santosa

JOGJA – Kualifikasi dosen sangat penting bagi akreditasi suatu perguruan tinggi. UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta pun mencanangkan program, ‘100 doktor’ guna mempertahankan status akreditasi ‘A’. Salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah itu berharap telah memiliki 300-an dosen bergelar doktor saat reakreditasi institusi pada 2022 mendatang.

“Kami akan mendorong ratusan dosen untuk studi lanjut doktoral, sehingga saat reakreditasi pada 2022 mendatang status Akreditasi Institusi ‘A’ dapat kami pertahankan,” ujar Rektor UAD, Dr H Kasiyarno MHum, saat Buka Puasa bersama awak media, di salah satu hotel di Jogjakarta, Kamis (23/5).

Jumlah dosen di UAD saat ini tercatat 659 orang. “Kami akui, saat ini jumlah dosen yang menyandang gelar doktor masih kurang. Melalui program ‘100 doktor’ itu kami mengharapkan jumlah dosen pada 2022, paling tidak mencapai tiga ratusan orang,” tutur Kasiyarno kemudian.

Tidak ada aturan, sebenarnya, yang mengharuskan dosen di perguruan tinggi harus bergelar doktor. “Minimal hanya bergelar S2. Tapi, itu minimalis. Kami ingin menggapai yang ideal. Paling tidak separo dari jumlah dosen yang ada telah bergelar doktor, sesuai tuntutan akreditasi institusi,” ujar Wakil Rektor I UAD, Dr Muklas MT.

Selain program ‘100 doktor’, UAD saat ini juga gencar membuka program studi vokasional. Ada satu program studi yang telah disetujui Kemenristekdikti dan lima program studi lainnya sedang dalam proses. “Kami membuka program studi tersebut, berdasarkan kebutuhan masyarakat atau kebutuhan industri,” papar Muklas.

Sesuai aturan Kemenristekdikti, satu perguruan tinggi berhak membuka program studi vokasional sebesar 10 persen dari total program studi yang dimiliki. “Kami ingin mengambil peluang itu,” tegas Muklas seraya mengemukakan, saat ini UAD memiliki 51 program studi termasuk 11 program studi di pascasarjana.

Satu program studi vokasional baru yang telah disetujui Kemenristekdikti, adalah program studi S1 PVTO (Pendidikan Vokasional Teknologi Otomotif) di bawah FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan). “Kami ingin mencetak guru-guru di bidang pendidikan otomotif, terutama untuk SMK, yang sekarang ini masih sangat minim jumlahnya,” ujar pengelola prodi PVTO, Dr Budi Santosa.

Selain sebagai tenaga pendidik di SMK, lulusan PVTO nantinya juga bisa berkiprah sebagai instruktur pada pusat-pusat pelatihan yang dimiliki perusahaan kendaraan bermotor dan alat berat. “Bisa juga sebagai manajer pada bengkel kendaraan bermotor dan alat berat, wirausaha di bidang otomotif, maupun di perusahaan BUMN, BUMD, swasta, dan asing,” ungkap Budi kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan