UAD Peringkat Terbaik Versi SINTA

Rektor UAD Kasiyarno (kiri) dan Tole Sutikno

Rektor UAD Kasiyarno (kiri) dan Tole Sutikno

JOGJA – Meningkatkan kualitas serta kinerja penelitian para dosen, UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta mengambil langkah cukup berani. Tidak tanggung-tanggung, salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah itu berani menggelontorkan dana Rp 8-9 miliar per tahun. Semuanya demi mendorong para dosen melakukan penelitian.

Imbasnya pun sudah mulai dirasakan. UAD berdasarkan pemeringkatan hingga Mei 2018, oleh Kemenristekdikti dinobatkan sebagai PTS (perguruan tinggi swasta) terbaik se Indonesia versi SINTA (Science and Technology Index). UAD memperoleh skor 11,306. “Sangat menggembirakan karena pencapaian itu bahkan mengalahkan banyak perguruan tinggi negeri,” ujar Rektor UAD, Dr Kasiyarno MHum, di Jogjakarta, beberapa waktu lalu.

SINTA merupakan sistem berbasis web milik Kemenristekdikti untuk merangking perguruan tinggi dan non perguruan tinggi, memetakan kepakaran dosen/peneliti, serta merangking kinerja jurnal nasional dan internasional yang ada di Indonesia. SINTA pun menawarkan akses mudah, cepat, dan komprehensif ke seluruh jurnal yang terdaftar di Indonesia, termasuk mengukur kinerja para peneliti, institusi dan jurnal di Indonesia.

Capaian UAD di dalam SINTA, lanjut Kasiyarno, pun merupakan salah satu torehan prestasi terbaik sepanjang sejarah. Sekaligus sebagai bukti, UAD mampu berkarya nyata demi kemajuan bangsa. “Ini menjadi anugerah sekaligus cambuk agar kinerja kami lebih baik di masa datang. Semoga Allah meridhoi semua kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas dan tuntas semua sivitas akademika UAD,” tandasnya.

UAD sejak awal memang selalu berupaya meningkatkan jumlah penelitian para dosen. Karenanya, setiap tahun UAD berani menganggarkan dana penelitian yang cukup besar, Rp 8-9 miliar per tahun, untuk mendorong para dosen melakukan penelitian. “Tapi kami juga mendorong para dosen meraih dana hibah dari institusi lain agar semakin banyak penelitian yang bisa didanai,” tutur Kasiyarno kemudian.

Universitas yang dulunya IKIP Muhammadiyah itu, pun memberikan dukungan dalam bentuk lain. Misalnya, memberikan tunjangan bagi para doktor. “Besarnya tunjangan kami hitung berdasarkan jumlah publikasi. Kami memberikan insentif bagi dosen yang karya ilmiahnya bisa terpublikasi di jurnal internasional,” ujar Kasiyarno seraya mengharapkan, hasil penelitian para dosen bisa dipublis agar bisa lebih bermanfaat.

Kepala LPPI (Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah) UAD, Tole Sutikno ST MT PhD MIET mengakui, minat meneliti para dosen UAD sedang tinggi beberapa tahun terakhir ini. Efek positifnya, jumlah proposal penelitian pun meningkat relatif tajam. Tahun 2018 ini saja, sudah ada 124 penelitian dosen UAD yang lolos didanai Kemenristekdikti. Tahun lalu hanya 96 judul penelitian yang lolos. “Tema penelitian pun makin beragam. Mayoritas bertemakan teknologi, kesehatan, dan pendidikan,” paparnya.

Prestasi UAD yang juga luar biasa tahun ini, masuk dalam Top Ten Perguruan Tinggi berdasarkan jumlah sitasi menurut Google Scholar yang ada di pemeringkatan SINTA Kemenristekdikti. UAD menduduki peringkat kedelapan. “Sekaligus menjadi peringkat terbaik di antara PTS yang ada di Indonesia,” ujar Tole bangga sembari bertekad, akan tetap mempertahankan atau bahkan meningkatkan semua prestasi di bidang penelitian maupun karya ilmiah para dosen itu. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan