UAD Rintis Kerjasama Dengan Rusia

Rusia: Dubes RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarusia, Muhammad Wahid Supriyadi, saat menyampaikan sosialisasi pendidikan di Rusia, di kampus-4 UAD Jogjakarta, Jumat (29/6).

Rusia: Dubes RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarusia, Muhammad Wahid Supriyadi, saat menyampaikan sosialisasi pendidikan di Rusia, di kampus-4 UAD Jogjakarta, Jumat (29/6).

JOGJA – Rusia saat ini sudah lebih terbuka. Berbeda dengan saat masih bernama Uni Sovyet. Perubahan ke arah yang lebih mengglobal itu pun ditunjukkan oleh pendidikan tinggi yang ada. Kedubes Indonesia yang berkedudukan di sana pun mendorong perguruan tinggi Indonesia menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi di Rusia. UAD mengambil kesempatan tersebut dengan menandatangani nota kesepahaman dengan People Friendship University of Russia/RUDN (Universitas Persahabatan Antar-Bangsa).

“Kerjasama telah kami tandatangani saat berkunjung ke Moskow, Mei kemarin. Semoga Agustus besok sudah mulai ada realisasinya. Terutama untuk penelitian bersama, publikasi bersama, dan pertukaran dosen. Kami juga akan menerima delegasi perguruan tinggi asal Rusia, pada bulan yang sama,” ujar Rektor UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, Dr Kasiyarno MHum, di kampus setempat, Jumat (29/6).

Untuk kerjasama tahap pertama, imbuh Kasiyarno, masih fokus pada program studi Kesehatan, Farmasi, dan Kedokteran. Ada proses pembelajaran dan perkuliahan dengan model blended learning yang memanfaatkan teknologi informasi. “Kami juga mengundang lima orang mahaiswa asal Rusia untuk belajar tentang Islam, tepatnya di S2 Pendidikan Islam, dengan tanggungan biaya sepenuhnya dari UAD,” ungkapnya kemudian.

Dubes LBBP (Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh) RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, Muhammad Wahid Supriyadi mengemukakan, komunis sudah tidak ada lagi di Rusia. Kalau pun ada, lebih cenderung ke sosialnya. “Karena itu, kekhawatiran atau ketakutan sebagian orang untuk datang ke Rusia tidak beralasan lagi,” katanya.

Wahid juga mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk segera mengirimkan mahasiswa mereka untuk belajar ke Rusia, terutama untuk jenjang doktoral. Jumlah mahasiswa Indonesia di Rusia saat ini masih terhitung sedikit. Baru ada sekitar 500 orang mahasiswa. Bandingkan dengan Malaysia yang telah mencapai 2.000-an orang mahasiswa.

Dari sisi kualitas, menurut Wahid, perguruan tinggi di Rusia tidak kalah dengan perguruan tinggi lain di Eropa, Amerika Serikat, maupun Australia. “Biaya hidup dan biaya kuliah di Rusia juga relatif murah jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa maupun negara asing lainnya. Biaya kuliah satu semester di Amerika Serikat, misalnya, barangkali cukup untuk membiayai tiga hingga lima orang mahasiswa di Rusia,” paparnya kemudian.

Karenanya, Wahid pun mengharapkan, agar nota kesepahaman yang telah ditandatangani tidak hanya berhenti di atas kertas. Alias, tak ada realisasinya. “Tak ada ruginya kuliah di Rusia. Persoalan bahasa juga tak lagi menjadi kendala. Selain beberapa perguruan tinggi telah membuka kelas internasional dengan pengantar Bahasa Inggris, biasanya juga ada kelas khusus untuk mempelajari bahasa Rusia selama satu tahun,” tandasnya lebih jauh. (rul).

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan