UIN Suka Peringatkan Mahasiswi Bercadar

Pembinaan Mahasiswa: Rektor UIN Suka Jogjakarta Prof Drs KH Yudian Wahyudi MA PhD (dua kiri) didampingi Wakil Rektor II Dr Phil Sahiron Syamsudin PhD (dua kanan) saat menjelaskan kepada wartawan tentang pembinaan terhadap mahasiswi bercadar.

Pembinaan Mahasiswa: Rektor UIN Suka Jogjakarta Prof Drs KH Yudian Wahyudi MA PhD (dua kiri) didampingi Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Dr H Waryono Abdul Ghofur MAg (dua kanan) saat menjelaskan kepada wartawan tentang pembinaan terhadap mahasiswi bercadar.

JOGJA – Sebagai salah satu perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia, UIN Suka (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga) Jogjakarta, memperingatkan mahasiswi mereka yang mengenakan cadar. Sekaligus memberikan pilihan tetap mengenakan cadar atau pindah ke kampus lain. Rektorat juga membina para mahasiswi tersebut dengan harapan mereka bisa kembali menganut Islam yang sesuai dengan kondisi Indonesia.

“Kita ini hidup di negeri pluralisme dengan dasar negara Pancasila. Saya meyakini anak-anak itu hanya korban penipuan saja. Jadi, kami menginginkan mereka kembali ke Islam yang sesuai dengan kondisi negara kita,” jelas Rektor UIN Suka Jogjakarta, Prof Drs KH Yudian Wahyudi MA PhD, kepada wartawan, di kampus setempat, Senin (5/3).

Rektor merasa perlu memberikan penjelasan kepada pers berkaitan dengan pemanggilan terhadap 40 orang mahasiswi bercadar, yang kemudian justru disalahmengertikan oleh para mahasiswi tersebut. “Kami hanya ingin membina mereka agar tidak terjerumus terlalu jauh dengan ajaran agama yang kurang tepat,” tandas Yudian.

Kampus pun memberikan pilihan, jika para mahasiswi tersebut tetap tidak bisa menerima kebijakan rektorat, maka mereka akan diberi pilihan. “Silakan jika mereka tetap bersikukuh dengan pilihan mereka. Tapi, silakan pula memilih kampus lain. Itu merupakan langkah terakhir jika mereka tetap tidak bersedia dibina,” papar Yudian kemudian.

Untuk mengantisipasi agar UIN Suka tak ‘kecolongan’ lagi, maka mahasiswa baru nantinya akan diuji tentang baca tulis Al Qur’an. Jika belum bisa, maka selama setahun mereka akan digembleng di pondok pesantren atau diasramakan. Termasuk pembinaan tentang Pancasila. “Karena asrama UIN Suka baru bisa difungsikan pada 2019 maka untuk sementara kami akan bekerjasama dengan pondok pesantren di luar kampus,” tutur Yudian.

Rektorat juga mengaku sangat keberatan ketika kampus dimasuki HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). “Seperti diketahui, keberadaan HTI telah dilarang pemerintah. Saat inipun sedang dalam proses peradilan. Sehingga selama itu pula, kami juga akan memberikan pilihan kepada mahasiswa maupun dosen, memilih HTI atau tetap menjadi bagian dari kampus UIN Suka. Jika tidak bersedia dengan kampus, silakan keluar,” tegas Yudian.

Karena status organisasi HTI di Indonesia itulah, Yudian tak ingin kampus yang dipimpinnya justru terjerumus ke dalam situasi yang tidak mengenakkan. “Pada intinya, jangan jerumuskan kami ke dalam neraka politik administrasi pendidikan,” ujar Yudian, yang didampingi Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Dr H Waryono Abdul Ghofur MAg. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan