UMY Percepat ‘Go International’

Rektor UMY Gunawan Budiyanto

Rektor UMY Gunawan Budiyanto

JOGJA – Menghadapi persaingan yang semakin ketat sekaligus menghadapi sistem edukasi global, UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) berupaya mempercepat ‘go international’. Sebagai salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah, UMY juga terus berupaya menjadi perguruan tinggi Islam terdepan tanpa harus terkungkung dengan Islam itu sendiri.

“Kami saat ini mengupayakan itu semua. Karena itu masyarakat barangkali melihat ada perubahan mencolok dari UMY dalam dua tahun belakangan ini,” ungkap Rektor UMY, Dr Ir Gunawan Budiyanto MP, pada acara Media Gathering dan Buka Puasa Bersama, di Hotel Phoenix Jogjakarta, Minggu (3/6). Hadir pula wakil rektor dan beberapa pimpinan lingkup UMY.

Berbagai aktivitas, lanjut Gunawan, terus dilakukan agar UMY bisa berada dan diperhitungkan di dunia internasional. “Saat ini UMY tak bisa lagi berjalan pelan, rendah hati. Untuk mampu bersaing di kancah dunia, tak bisa tidak, UMY harus ‘berlari’ lebih cepat. Tanpa harus kehilangan jatidiri sebagai perguruan tinggi Islam,” tandasnya.

Salah satu langkah yang diambil, UMY saat ini telah memiliki lebih dari 50 universitas partner serta telah menyebar dosen dan mahasiswa ke 23 perguruan tinggi di luar negeri. “Saat ini kita sedang ‘mengeroyok’ Taiwan. Sedikitnya ada lima belas orang dosen kita yang saat ini sedang menempuh S3 di sana. Ternyata Taiwan itu jauh lebih besar dari dugaan kita semula. Mereka dua tiga langkah ke depan,” papar Gunawan.

Kesemuanya itu, ujar Gunawan sekali lagi, guna memantapkan atmosfer internasional di lingkungan UMY. Sekaligus memantapkan predikat Jogjakarta sebagai Kota Pendidikan. “Di mata dunia, Indonesia itu merupakan pasar terbesar selain Tiongkok dan India. Karena itu, atmosfer internasional menjadi sangat penting agar UMY maupun Jogjakarta secara umum tidak harus berkecil hati manakala harus menjadi bagian dari jejaring sistem edukasi global,” katanya.

Menghadapi berbagai perjanjian internasional sekaligus persaingan global, kita tidak bisa lagi hanya berdiam diri. Kita harus menjadi bagian di dalamnya. “Sebenarnya dari sisi keahlian, orang-orang Indonesia itu tidak kalah dibandingkan orang asing. Hanya saja, faktor bahasa seringkali menjadi kendala. Karenanya, kita pun harus menguasainya jika tak ingin hanya menjadi penonton di negeri sendiri,” tutur Gunawan lebih jauh.

Pada kesempatan itu, Gunawan tak lupa menyampaikan apresiasi terhadap kinerja awak media yang selama ini telah menjadi mitra yang baik dengan UMY. Tanpa media, UMY tak akan bisa mensosialisasikan program-programnya. “Kami mengharapkan, kerjasama yang selama ini telah terjalin baik ini bisa terus ditingkatkan di masa-masa mendatang,” katanya kemudian. (rul).

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan