Unesco Akui Naskah Kuno Nusantara

IMG_20170513_081547
Sejumlah tamu utama 5th ICoASL 2017 didampingi Wakil Rektor II UIN Suka Sahiron MPhil PhD (kiri) dan ketua panitia Labibah Zain MLIS (kanan).
JOGJA – Bangsa Indonesia patut bangga. Unesco telah mengakui dua naskah kuno Nusantara. Masing-masing ‘Babad Diponegoro’ dan ‘Negara Kertagama’, sebagai bagian dari 52 dokumen penting dan bersejarah lain di dunia.
“Merepresentasikan sejarah dan budaya bangsa, karenanya pelestarian naskah kuno sebenarnya menjadi sesuatu yang sangat penting,” ungkap salah seorang staf pejabat Badan Perpustakaan Nasional, Ovi Sofiana, di hadapan peserta 5th ICoASL (International Conference of Asian Special Libraries) 2017, di kampus UIN Suka (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga) Jogjakarta, Rabu (10/5).
Sebagai bagian dari pelestarian budaya, lanjut Ovi, saat ini ada 10.634 naskah kuno Nusantara yang harus dilestarikan, dikembangkan, dikaji kembali, dan dialih-mediakan. “Sayang, hingga sekarang baru tiga puluh persen dari naskah kuno tersebut yang telah dialih-mediakan dalam bentuk digital,” tuturnya kemudian.
Kurasi, konservasi, dan alih media naskah-naskah kuno itu menjadi sangat penting sebagai wahana untuk melahirkan genarasi cerdas lahir dan batin. “Pelestarian naskah kuno merupakan salah satu bentuk edukasi kultural yang sangat baik,” tandas Ovi.
Ovi pun mengemukakan, ada sekitar 3.000 naskah kuno Nusantara yang berada di daerah, tersebar di sejumlah keraton, masjid agung, dan tempat bersejarah lain, yang menunggu untuk dikurasi, dikonservasi, maupun dialih-mediakan.
Ketua panitia 5th ICoASL 2017, Labibah Zain MLIS yang juga Kepala Perpustakaan UIN Suka Jogjakarta mengatakan, konferensi dua tahunan tersebut sangat penting karena perpustakaan sejatinya bukan hanya tempat untuk menyimpan buku, namun juga sebagai tempat untuk merawat budaya.
“Celakanya, masyarakat belum menaydari sepenuhnya fungsi perpustakaan sebagai perawat kebudayaan itu. Bagaimana pun manuskrip kuno banyak memuat kearifan lokal yang sangat adiluhung. Karenanya, semua itu harus dilestarikan. Bahkan jika mungkin, kita harus menggali kembali kebudayaan lisan yang saat ini belum sempat didokumentasikan, agar tidak punah,” papar Labibah.
ICoASL yang sebelumnya digelar di India, Jepang, Filipina, Korea Selatan, dan kali ini di Indonesia diikuti tak kurang oleh 200 orang dari 15 negara. Sebanyak 69 makalah akan dipresentasikan dalam diskusi paralel.
Di sela tiga hari penyelenggaraan, panitia akan mengusung suasana Malioboro ke kampus UIN Suka. “Selain pameran berbagai hal yang berbau tradisional, kami akan mengusung angkringan, aneka macam masakan dan makanan tradisional, sehingga peserta konferensi akan puas dan membawa kesan mendalam ketika nantinya harus pulang ke negara asal masing-masing,” tutur Labibah yang saat ini juga menjadi President Elected SLA Asian Chapter periode 2017-2019 itu. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan