Waduh, Ekonomi Syariah Indonesia Ketinggalan Jauh

Ekonomi Syariah: Kepala Departemen dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Muhammad Anwar Bashori, memaparkan kondisi ekonomi syariah Indonesia, di kampus UMY, Kamis (28/12).

Ekonomi Syariah: Kepala Departemen dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Muhammad Anwar Bashori, memaparkan kondisi ekonomi syariah Indonesia, di kampus UMY, Kamis (28/12).

JOGJA – Indonesia hingga saat ini masih terlalu bangga memiliki penduduk muslim terbesar di dunia. Namun, belum memiliki program jelas berkaitan dengan sistem ekonomi syariah. Negara lain yang jumlah muslimnya lebih sedikit justru sudah lebih maju dalam menerapkan keuangan syariah. Walhasil, ekonomi syariah Indonesia memang ketinggalan jauh dibandingkan negara lain.

“Kita masih saja menjadi pasar besar dunia. Tidak diimbangi dengan produksi. Semuanya serba impor. Bahkan untuk makanan maupun pakaian. Harus ada perubahan pola pikir jika kita ingin maju,” ujar Kepala Departemen dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Muhammad Anwar Bashori, di hadapan peserta seminar Ketahanan Keuangan Islam, di kampus UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Kamis (28/12).

Dari hal-hal kecil dan praktis, menurut Anwar, Indonesia masih ‘gamang’ menyikapi sistem ekonomi atau keuangan syariah. “Orang Arab lebih senang mengunjungi Jepang karena bandara Tokyo memiliki masjid yang representatif. Begitu pula ketika hendak mencari makanan halal,” contohnya.

Sedangkan di Indonesia, orang bingung ketika ditanya masjid di bandara. Atau, ketika ditanya di mana bisa mendapatkan tempat makan yang halal. “Barangkali sebagian besar makanan di Indonesia sudah halal, tapi bagi orang asing itu belum cukup. Halal tak hanya menyangkut mengucapkan bismillah ketika menyembelih sapi, misalnya. Lebih dari itu harus thayyiban. Harus baik, pula,” ucap Anwar.

Selain menyembelih secara islami, lanjut Anwar, orang Jepang pun sudah memperlakukan sapi secara baik saat diternakkan. Begitu pula perlakuan mereka terhadap daging hasil pemotongan. Brasil saat ini menjadi pemasok daging ayam terbesar di dunia karena mampu menjalankan halal dan thayyiban. “Mereka mengekspor ayam melalui pelabuhan Rotterdam yang benar-benar sudah menerapkan proses halal dan thayyiban.”

Korea, imbuh Anwar, telah mulai memproduksi kosmetika halal. Thailand bertekad akan menjadi dapur halal terbesar di dunia dengan penggeraknya salah seorang cucu KH Ahmad Dahlan yang tinggal di sana. Malaysia pun telah mencanangkan akan menjadi pusat ekonomi syariah terbesar dunia. “Indonesia, ketinggalan jauh.”

Tapi, Anwar cukup optimis Indonesia sedang menuju ke kemajuan berkaitan dengan ekonomi maupun keuangan syariah. Presiden dan Wakil Presiden telah mengumpulkan Bank Indonesia, OJK, dan pemangku kepentingan lainnya untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia. “Paling tidak pada 2018 besok kita sudah memiliki visi untuk itu. Baru kemudian program kerja dengan target-target terukur.”

Direktur IPIEF (International Program for Islamic Economic and Finance) UMY, Dimas Bagus Wiranata SE MEc menyebutkan, seminar melalui sejumlah narasumber yang diundang membahas tantangan yang akan dihadapi oleh ketahanan keuangan islam di tengah kerentanan, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas dunia.

“Ketahanan mencakup kemampuannya untuk bertahan menghadapi berbagai goncangan dan tetap mampu menyediakan fungsi-fungsi ekonomi. Kemampuan mengatasi risiko sistemik yang dapat mempengaruhi evolusi dan siklus finansial,” tutur Bagus lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan