Wajah Kota Amburadul Tanpa Arsitek

Ar Ahmad Saifudin Mutaqi IAI AA

Ar Ahmad Saifudin Mutaqi IAI AA

JOGJA – Keterlibatan arsitek sangat penting dalam pengembangan suatu kota. Wajah kota akan hancur-hancuran tanpa keterlibatan arsitek. Dan, pemda DIY hingga saat ini belum memiliki lembaga yang sering disebut sebagai Tim Ahli Bangunan Gedung, yang keberadaannya sebenarnya sangat penting.

“Sebagai gambaran, DKI Jakarta saat ini telah memiliki Tim Penilai Arsitektur Kota,” ungkap Ketua IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) Cabang Yogyakarta, Ar Ahmad Saifudin Mutaqi IAI AA, di sela pelaksanaan sharing session berkaitan dengan pameran Sakapari 2019, di Jogjakarta, Senin (28/1) malam.

Semestinya Jogjakarta memiliki lembaga tersebut agar pengembangan wajah kota bisa direncanakan secara baik dan berkelanjutan. Kendati begitu, Saifudin masih mengapresiasi pemkot Jogjakarta yang mampu mempertahankan tutupan lahan di kampung Kotabaru sebesar 50 persen. “Cukup, karena idealnya lahan hijau yang tersedia sebesar tiga puluh persen,” katanya.

Di Jogjakarta sendiri, imbuh Saifudin, saat ini tercatat sekitar 700 orang arsitek dan yang tercatat sebagai anggota IAI sekitar 350-an. Dari jumlah anggota IAI itu yang sudah mengantongi sertifikat tercatat 200-250 orang. “Sudah cukup baik karena persentase arsitek bersertifikat itu sudah melebihi rata-rata nasional,” ujarnya.

Secara nasional, secara umum jumlah arsitek di Indonesia masih sangat kurang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk sebesar 260 juta orang. “Jumlah arsitek di Indonesia ada sekitar dua puluh lima ribu orang dan yang menjadi anggota IAI sekitar lima ribu orang,” papar Saifudin.

Hanya saja, menurut Saifudin, dari sejumlah arsitek yang diluluskan perguruan tinggi hingga saat ini hanya sekitar 25 persen yang menjalani profesi sebagai seorang arsitek. “Selebihnya menjalani profesi di berbagai bidang,” tuturnya kemudian.

Terkait acara sharing session, merupakan ajang saling berbagi pengalaman dari para arsitek muda kepada mahasiswa arsitektur. “Bekerjasama dengan Jurusan Arsitektur UII, kami ingin pendidikan arsitektur bisa lebih bagus lagi. Sekaligus menyebarluaskan ilmu arsitektur kepada masyarakat umum,” papar Saifudin.

Acara itu menggelar dua aktivitas sekaligus, yaitu pameran dan paparan 13 karya arsitektur dari IAI, mahasiswa Program Profesi Arsitektur UII, dan mahasiswa Prodi Sarjana Arsitektur UII. “Pada sharing session pertama ini, ada pemaparan tiga karya Widodo Agung Nugraha IAI, Peda Bayu IAI, dan Theo Rifai IAI pemenang sayembara desain kawasan Kalibuntung, Sleman,” jelas Saifudin. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan