Warga Sulteng Di Jogja Pun Perlu Perhatian

Bencana: (kiri-kanan) Yuni Satya Rahayu, Bambang Praswanto, dan Eko Suwanto memberikan penjelasan, di kantor DPD PDI Perjuangan DIY, Jalan Badran, Jogjakarta, Senin (1/10), terkait penggalangan bantuan bagi korban bencana di Sulawesi Tengah.

Bencana: (kiri-kanan) Yuni Satya Rahayu, Bambang Praswanto, dan Eko Suwanto memberikan penjelasan, di kantor DPD PDI Perjuangan DIY, Jalan Badran, Jogjakarta, Senin (1/10), terkait penggalangan bantuan bagi korban bencana di Sulawesi Tengah.

JOGJA – Sebagai kota Pelajar, Jogjakarta menjadi tujuan pelajar maupun mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka menempuh studi di kolta itu. Tak terkecuali warga Sulawesi Tengah, termasuk Palu dan Donggala, yang saat ini sedang tertimpa bencana. Tak kurang dari 3.000 pelajar/mahasiswa asal Sulteng saat ini mukim di Jogjakarta.

“Mereka juga membutuhkan perhatian. Membutuhkan bantuan. Untuk itulah kami mendirikan posko di asrama mahasiswa Sulteng yang ada di Jalan Bintaran. Termasuk dapur umum yang pasti juga diperlukan,” tutur Ketua DPD PDI Perjuangan DIY, Bambang Praswanto, di kantor partai setempat, Jalan Badran, Jogjakarta, Senin (1/10).

Bekerjasama dengan DPRD, BPBD, dan Diskominfo DIY, di asrama mahasiswa itu pula dipasang free wifi. “Komunikasi menjadi fasilitas yang sangat diperlukan sehingga kami mengupayakannya. Panik tak bisa berkomunikasi, mereka semuanya ingin mengontak keluarganya di Sulawesi. Karena itulah perlu ada fasilitas wifi,” ujar Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan DIY, Eko Suwanto yang juga Ketua Komisi A DPRD DIY.

Sesuai instruksi DPP, timpal Sekretaris DPD PDI Perjuangan DIY Yuni Satya Rahayu, seluruh kader, pengurus, maupun caleg bahu membahu, gotong-royong mengumpulkan dana maupun sumbangan dalam bentuk lain. “Sumbangan akan kami kirim langsung ke Ketua DPD PDI Perjuangan Sulawesi Tengah,” ujarnya kemudian.

Tidak ada batas waktu sampai kapan penggalangan dana dilakukan. “Untuk tahap pertama, paling tidak, akan sampai masa tanggap darurat dinyatakan selesai. Setelah itu kami masih akan terus menghimpun bantuan hingga saudara-saudara kita yang di Sulawesi Tengah tidak membutuhkannya lagi,” tandas Bambang.

Kerusakan akibat bencana di Sulawesi Tengah, diyakini lebih parah dibandingkan bencana gempabumi di Bantul pada 2006 silam. Bahkan dengan bencana di Lombok kemarin. Karena itulah gotong-royong dari seluruh kader sangat dinantikan. “Di sisi lain, warga Sulawesi Tengah yang di Jogjakarta pun memerlukan bantuan yang tak kalah sedikit,” ujar Bambang kemudian.

Orangtua pelajar maupun mahasiswa yang ada di Sulawesi Tengah pasti juga sedang mengamali kesusahan. “Dengan demikian, akan kami upayakan jaminan hidup bagi para pelajar mahasiswa itu. Termasuk kemungkinan beasiswa, agar mereka jangan sampai putus sekolah atau kuliah,” tutur Bambang lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan