Wayang Dakwah Mulai Ditinggalkan

Milad UAD: Dalang Ki Anom Teguh Purwocarito membawakan lakon 'Semar Mbangun Kahyangan' pada pertunjukan wayang kulit semalam suntuk memperingati milad ke-57 UAD.

Milad UAD: Dalang Ki Anom Teguh Purwocarito membawakan lakon ‘Semar Mbangun Kahyangan’ pada pertunjukan wayang kulit semalam suntuk memperingati milad ke-57 UAD.

JOGJA – Pertunjukan wayang kulit sudah dikenal terutama di Jawa sejak ratusan tahun lalu. Bahkan salah seorang Wali, Sunan Kalijaga, menggunakannya sebagai sarana dakwah agama Islam. Kini, wayang sebagai dakwah mulai ditinggalkan. UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta ingin memanfaatkan kembali pertunjukan wayang kulit semalam suntuk sebagai salah satu sarana dakwah keagamaan.

“Karena itu, untuk kali kesekian, kami menggelar pertunjukan wayang kulit sebagai rangkaian acara peringatan milad,” ungkap Rektor UAD, Dr Kasiyarno MHum, sesaat sebelum dimulainya pertunjukan wayang kulit semalam suntuk, di kampus setempat, Sabtu (10/2) malam.

Memperingati milad atau dies natalis ke-57, UAD menggelar pertunjukan wayang kulit dengan lakon Semar Mbangun Kahyangan, dengan dalang Ki Anom Teguh Purwocarito. Dalang muda yang masih berusia 21 tahun, bernama aseli Teguh Santoso DS, itu juga tercatat sebagai mahasiswa Pendidikan Agama Islam UAD.

“Selain melestarikan wayang sebagai media dakwah, melestarikan warisan budaya, pergelaran seperti ini juga merupakan sarana kami untuk bersilaturahim dengan masyarakat sekitar kampus,” ujar Kasiyarno. Pada malam itu memang tampak hadir anggota muspika setempat.

Dekan FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat) UAD, Lina Handayani PhD, selaku ketua milad mengemukakan, pergelaran wayang kulit semalam suntuk ini merupakan rangkaian acara milad yang telah dimulai sejak Desember lalu. “Sekaligus untuk memelihara dan mengambil makna dari kearifan lokal,” katanya.

Teguh mengaku, jatuh cinta dengan dunia pewayangan sejak masih duduk di kelas 5 SD. “Waktu itu saya sering diajak kakek nonton pertunjukan wayang di tempat asal saya Pulanharjo, Klaten, Jawa Tengah. Proses pendalaman pun terus saya lakukan hingga berlanjut ketika saya masuk pondok pesantren Al Maa’uun di Tegallayang, Caturharjo, Pandak, Bantul,” kisahnya.

Bakatnya semakin terasah di ponpes tersebut karena mendapat dukungan penuh. Ia pun mulai menerima permintaan menggelar pertunjukan wayang untuk wilayah Jogjakarta. Akhirnya ia pun bertekad menggunakan wayang sebagai media hiburan sekaligus syiar agama Islam.

“Niat saya berbagi ilmu dan menyebarkan agama Islam melalui pertunjukan wayang. Saya juga menganggap ini upaya melanjutkan jejak para Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga yang menggunakan media budaya dalam menyebarkan Islam,” imbuh pria kelahiran 13 Juni 1997 itu. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan