Wisata ‘Intangible Heritage’ Belum Tergarap

Didi Kempot: Penyanyi asal Solo, Didi empot, di atas panggung usai menerima penghargaan dari Stipram Jogjakarta, dalam rangka dies natalis ke-17 kampus tersebut, Senin (17/9).

Didi Kempot: Penyanyi asal Solo, Didi empot, di atas panggung usai menerima penghargaan dari Stipram Jogjakarta, dalam rangka dies natalis ke-17 kampus tersebut, Senin (17/9).

JOGJA – Pemerintah menargetkan jumlah wisatawan mancanegara pada 2019 mendatang akan mencapai 20 juta orang. Namun pengamat sekaligus pakar pariwisata pesimistik target itu akan tercapai. Bahkan menilai, itu merupakan cerminan kepanikan pemerintah untuk memajukan sektor pariwisata.

“Jika pengembangan pariwisata hanya dilakukan secara konvensional seperti selama ini, saya kok tidak yakin target wisatawan mancanegara itu akan tercapai,” ujar pengamat dan pakar pariwisata, yang juga Ketua Stipram (Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo) Jogjakarta, Suhendroyono,di kampus setempat, Senin (17/9).

Bukti pemerintah masih menjalankan langkah konvensional, menurut Suhendroyono, masih saja lebih mengembangkan destinasi wisata yang tampak, seperti keindahan alam dan sebagainya. “Justru warisan budaya non bendawi atau intangible heritage yang sangat beragam sama sekali tidak tersentuh,” katanya.

Sebagian besar, 80 persen intangible heritage yang sangat beragam di Indonesia ini belum digarap secara maksimal. Bahkan mungkin belum sama sekali. Padahal, tak kurang dari 3.011 etnis ada di Indonesia yang kesemuanya bisa digarap sebagai destinasi wisata yang sangat menarik.

“Coba saja kita bicara lagu, atau adat istiadat, misalnya. Atau jenis tarian yang sangat beragam di seluruh Indonesia. Tidak akan habis jika kita narasikan secara benar. Tinggal bagaimana kita mengemasnya. Saya meyakini akan banyak wisatawan mancanegara yang akan tertarik,” tandas Suhendroyono.

Karena itu pula dalam memperingati dies natalis ke-17 tahun ini Stipram memberikan penghargaan kepada Didi Kempot, penyanyi yang kebanyakan lagu-lagunya berbahasa Jawa. “Didi Kempot selalu menyinggung tempat-tempat wisata dalam setiap lagunya sehingga kami berikan penghargaan tahun ini,” tutur Suhendroyono.

Lagu, imbuh Suhendroyono, bisa dibilang juga merupakan salah satu bentuk intangible heritage. Termasuk lagu-lagu Didi Kempot. “Selain itu Didi Kempot merupakan salah satu artis atau penyanyi Indonesia yang sangat tenar di luar negeri. Dan hingga saat ini belum ada yang memberikan penghargaan,” ungkapnya menyampaikan alasan pemberian penghargaan dari Stipram untuk Didi Kempot.

Didi Kempot pun menyatakan, sebenarnya tak memiliki inspirasi khusus hingga ia menciptakan lagu-lagu yang menyinggung tempat-tempat wisata. “Sederhana saja, karena tempat-tempat wisata itu ada di negara kita dan biasanya dikunjungi banyak orang,” katanya.

Hingga saat ini, Didi Kempot mengaku telah melansir lagu tak kurang dari 500-600 lagu. “Dan sampai kapan pun saya tetap akan menulis lagu yang bersinggungan dengan tempat wisata. Tentu yang paling berkesan adalah lagu Stasiun Balapan, karena lagu itu yang menjadikan saya terkenal hingga sekarang,” ucapnya.

Kepada anak-anak muda, Didi Kempot pun mengimbau, agar jangan malu membawakan lagu dalam bahasa ibu yang kita punyai. “Kenyataan menunjukkan, melalui lagu-lagu dengan bahasa ibu itulah saya bisa dikenal hingga Eropa dan Amerika Latin,” tutur penyanyi asal Solo itu. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan