Wisata Keluarga Bisa Interaksi Lebih Akrab

JOGJA (jurnaljogja) – Dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Jakarta, Rahmat Ingkadijaya berpendapat, wisata keluarga  dapat menjadi salah satu sarana untuk memelihara dan meningkatkan kepaduan antaranggota keluarga.
     “Dengan berwisata, anggota keluarga bisa keluar sejenak dari rutinitas sehari-hari dan menjadikan momen bagi anggota bisa berinteraksi lebih akrab,” kata Rahmat, dalam disertasinya untuk meraih gelar doktor  di Sekolah Pascasarjana UGM Jogjakarta, Selasa (17/5).
     Penelitian promovendus terhadap 300 keluarga sebagai responden menyebutkan dua motif yang melatarbelakangi keluarga berwisata. Yakni,  pelarian diri dan pencarian sosial. Ada sekitar 46 persen responden  mengatakan, pelarian sebagai motif  bagi keluarga untuk berwisata. Sedangkan 36 persen mengatakan motif pencarian sosial sebagai alasan mereka melakuan kegiatan wisata.
   Adapun jenis aktivitas wisata yang paling dipilih 300 keluarga yang tinggal di kompleks perumahan di Kota Bogor tersebut meliputi aktivitas wisata alam, wisata budaya dan wisata khusus. Dari ketiga jenis aktivitas wisata tersebut, kata Rahmat, pengelolaan dan pengembangan objek wisata untuk wisata alam, wisata budaya dan wisata khusus perlu diakomodasi sesuai kebutuhan keluarga. “Berkaitan dengan aksesibilitas dan penyediaan fasilitas pendukung,” ujarnya.
    Dalam disertasinya berjudul “Motif, Aktivitas, Kepuasan Berwisata Dan Kontribusinya Pada Kepanduan Keluarga” terungkap, umumnya keluarga melakukan jenis aktivitas wisata. Namun karakterisitik wisata keluarga yang paling sering dilakukan meliputi aktivitas wisata favorit, yaitu wisata kuliner, wisata belanja dan menikmati pemandangan alam.
    Menurutnya, keputusan pemilihan aktivitas wisata oleh keluarga, umumnya dilakukan secara demokratis antara orangtua dan anak. Namun masing-masing memilih destinasi wisata yang dekat dengan tempat tinggal. Meski demikian, motif wisata tidak menentukan secara spesifik aktivitas wisata yang dipilih oleh keluarga. Ini karena setiap aktivitas wisata memiliki fungsi berbeda.
     Kepala Satuan Pengawasan Internal Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, Jakarta ini menilai wisata keluarga berperan penting sebagai sarana untuk memelihara dan meningkatkan keharmonisan keluarga. Ini karena aktivitas wisata yang memuaskan terbukti dapat memelihara dan meningkatkan kepaduan keluarga.  “Semakin banyak keluarga yang puas terhadap aktivitas wisata yang dilakukannya, maka akan semakin banyak keluarga yang memperoleh manfaatnya,” tuturnya.
    Ia menyebutkan lima besar aktivitas wisata yang berkontribusi tinggi pada kepanduan keluarga, yakni berkemah, arung jeram, agrowisata, kunjungan ke festival budaya dan ke aktivitas ekonomi. Akan tetapi diakui belum banyak keluarga yang memilih atau melakukan kelima aktivitas tersebut. Karena itu, menurutnya, kelima aktivitas tersebut perlu diperkenalkan dan dipromosikan lebih gencar lagi ke keluarga. (bam)
CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan