Wow, Sains dan Seni Bersanding Harmonis

Patung: Rektor USD Johanes Eka Priyatma (kanan) dan Rektor ISI Jogjakarta M Agus Burhan berjabat tangan di depan patung 'Penari' tanda dimulainya pameran patung di kampus USD.

Patung: Rektor USD Johanes Eka Priyatma (kanan) dan Rektor ISI Jogjakarta M Agus Burhan berjabat tangan di depan patung ‘Penari’ tanda dimulainya pameran patung di kampus USD.

JOGJA – Ada nuansa berbeda di kampus Sanata Dharma sejak beberapa hari belakangan ini. Sejumlah karya seni patung luar ruang menghiasi sudut-sudut Kampus 1 dan 2, di Mrican, Jogjakarta. Bukan kebetulan. Menyambut dies natalis ke-62, USD (Universitas Sanata Dharma) Jogjakarta memang menjalin kerjasama dengan ISI (Institut Seni Indonesia) Jogjakarta.

“Jadi, begitulah adanya hingga patung-patung karya para seniman ISI dan Jogjakarta itu berada di kampus kami,” ungkap Rektor USD, Johanes Eka Priyatma MSc PhD, pada pembukaan pameran patung Pendidikan dan Seni Rupa, di kampus USD, Sabtu (16/12) malam.

Pameran hasil kolaborasi USD dan ISI Jogjakarta itu menampilkan 25 karya patung dosen maupun alumni ISI Jogjakarta. Tak tanggung-tanggung, karya patung itu akan dipajang hingga awal Juni mendatang. “Saya kira inilah kali pertama ada pameran patung di kampus. Bahkan dengan durasi hingga enam bulan,” tutur ketua panitia pameran, Ouda Teda Ena, yang juga dosen USD itu.

Pameran yang rencananya akan digelar rutin setiap tahun, itu menurut Eka, merupakan perpaduan yang tidak biasa. Antara sains atau ilmu pengetahuan dengan seni rupa. “Tapi bukannya tidak bermakna. Saya kira patung memiliki peran penting dalam pendidikan,” tandasnya.

Terlebih bagi Sanata Dharma yang mengharapkan mahasiswa maupun lulusannya memiliki kompetensi, kesadaran, maupun nurani. “Membentuk sumberdaya manusia dengan sikap-sikap tersebut tentu tidak mudah. Bahkan menurut para ahli, pendidikan karakter akan lebih merasuk jika disampaikan secara tidak langsung,” papar Eka kemudian.

Karena itulah, karya-karya patung yang diletakkan di sudut-sudut kampus USD itu tak hanya berfungsi sebagai pajangan semata. “Nantinya para mahasiswa akan kami tugasi untuk mengamati, kemudian menyusun semacam resensi terhadap karya patung tertentu. Tak menutup kemungkinan tugas-tugas semacam itu mampu membuat para mahasiswa untuk merenungi diri,” tandas Eka.

Rektor ISI Jogjakarta, Prof Dr M Agus Burhan MHum menyatakan, gagasan USD untuk menggelar pameran dengan memajang karya seni patung di kampusnya merupakan terobosan penting. “Saya kira jarang sekali kampus di Jogja ini menjalin kerjasama dengan sesama kampus di Jogja. Barangkali lebih banyak kerjasama mereka dengan perguruan tinggi asing. Langkah USD kali ini sangat cerdas,” katanya.

Kerjasama antara ISI dengan USD, lanjut Burhan, pun merupakan implementasi kongkrit sehingga tak ada lagi batasan antara ilmu pengetahuan dengan seni rupa. “Sungguh merupakan perpaduan harmonis yang memiliki makna estetik dan interpretasi sosial budaya secara luas,” puji Burhan kemudian.

Beberapa di antara 25 karya seni patung yang diletakkan di kampus USD pernah ditampilkan di ajang pameran lainnya. Selain dosen ISI, alumni ISI, patung-patung itu juga merupakan karya seniman patung Jogjakarta. Termasuk karya almarhum Edhi Sunarso, pematung besar yang kondang di era Presiden Soekarno.

Pematung lain yang karyanya dipamerkan, Amboro Liring, Ambrosius Edi Priyanto, Anusapati, Badari, Barnabas Budiono, Basrizal Albara, Ahmad Syahbandi, Dunadi, Frans Gupita, Harry Susanto, Hedi Hariyanto, Ichwan Noor, Kasman, Komredon Haro, Lindu Prasekti, Lutse Lambert, Mon Mujiman, Ronie Lampah, Suparman, Timbul Raharjo, Tugiman, Win Dwi Laksono, Yoga Budhi Wantoro, dan Yulhendri. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan