Indonesia Terjebak Liberalisasi Tanpa Judul

Indonesia Terjebak Liberalisasi Tanpa Judul

JOGJA – Reformasi yang digadang-gadang mampu membawa perubahan tehadap kehidupan sosial politik masyarakat Indonesia, ternyata tidak seperti harapan semula. Bahkan hanya melahirkan liberalisasi dalam segala bidang.

“Jika saya boleh menyebut, reformasi merupakan liberalisasi senyatanya. Hanya saja tanpa judul liberalisasi,” kritik pakar politik UGM, Prof Dr Purwo Santoso, di hadapan peserta diskusi akhir tahun, di kantor PP Muhammadiyah, Jalan Cik Di Tiro, Jogjakarta, Senin (30/12).

Reformasi, tutur Purwo kemudian, memang sesuatu yang benar. Tapi tidak pener. “Benar secara textbook Barat, tapi tidak pener karena ibaratnya tidak pernah menginjak bumi Indonesia. Dalam politik, misalnya, tak ada lagi tepa-slira politik.”

Karena sama sekali tak ada unsur kearifan masyarakat Indonesia, maka sebenarnya politik kita sekarang ini politik gagap. “Serba tanggung. Magel. Matang tidak, mentah pun tidak. Sehingga dalam banyak hal terasa tidak cocok dengan kemasyarakatan Indonesia,” ujar Purwo.

Karena tanpa kearifan, maka dalam membangun demokrasi pun, Indonesia ini meninggalkan kewarganegaraan. “Dalam berbagai kesempatan, terutama menyangkut otonomi daerah, misalnya, hanya Hukum Tatanegara yang kita pakai. Tak ada Hukum Adat. Jadinya, semuanya seakan untuk negara, bukan untuk warganegara,” jelas Purwo.

Jangan heran jika politik kita saat ini berkembang hingga seperti sekarang ini. Serba transaksional. Partai politik pun hanya menjadi tunggangan elit pemegang modal atau tokoh-tokoh partai. “Partai politik gagal mendudukkan dirinya sebagai alat pendidik politik bagi warganegara,” kritik Purwo lebih jauh.

Demokrasi yang sedang kita bangun sekarang ini lebih mengarah ke demokrasi elektoral. Bukan demokrasi yang substantif. “Sistem perwakilan yang kita bangun pun lebih condong ke perwakilan tubuh. Bukan perwakilan ide, sebagaimana seharusnya,” tandas Purwo.

Kendati begitu, Purwo pun mengajak semuanya untuk mawas diri. “Jangan-jangan akademisi, para pemikir bangsa saat ini, juga memiliki andil sehingga kita semakin melenceng. Jangan hanya menyalahkan politisi saja.”

Dengan pembicara kunci Dr H M Busyro Muqoddas SH MHum, diskusi bertajuk Catatan Kritis Di Bidang Ekonomi, Sosial, Politik, dan Hukum Tahun 2019 itu juga menghadirkan Dr Akhmad Akbar Soesamto, Dr Zaenal Arifin Mochtar, dan Dr Phil Ridho Al-Hamdi. (rul)

Hosting Unlimited Indonesia

Share this post