Ini Cara Pakar Atasi Kekurangan Suplai Daging

SLEMAN – Fakultas Peternakan UGM tengah mengembangkan sapi GaMa, Gagah dan Macho, hasil perkawinan silang tiga jenis sapi secara bersamaan. Sapi Belgian Blue, Wagyu, dan Brahman dengan keunggulan masing-masing. Belgian Blue dikenal memiliki bobot besar dan berotot. Wagyu dagingnya enak dan empuk. Brahman lambung besar dan adaptif terhadap lingkungan tropis.

Saat meninjau kandang pengembangan sapi tersebut, di Widodomartani, Ngemplak, Sleman, DIY, akhir pekan kemarin, Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof Dr Ir Ali Agus, menargetkan pengembangan sapi tersebut selesai dalam 20 tahun. Sekarang sudah jalan sekitar enam tahun. Umur dua tahun, bobot sapi GaMa sudah mencapai 550 – 600 kilogram.

Lamanya proses pengembangan sapi itu sangat wajar guna mendapatkan turunan yang stabil, dengan berbagai data penunjang yang diperlukan. “Kita sementara ini belum punya data kualitas karkas maupun kualitas daging, sebab kita belum akan memotong sapi tersebut hingga kelak menghasilkan tingkatan turunan yang diinginkan,” jelas Ali Agus.

Berdasarkan data yang dikumpulkan tim peneliti sampai saat ini, lanjut Ali Agus, bobot sapi GaMa jauh lebih besar dibandingkan dengan sapi lokal. “Selisih dengan sapi cross lainnya bisa mencapai seratus kilogram.”

Ali Agus menggambarkan untuk sapi jenis cross lainnya memerlukan umur sekitar 3 – 4 tahun agar bisa mendapatkan bobot ideal ketika dipotong. Dengan umur yang sama, sapi GaMa bisa memiliki bobot sekitar 900 kilogram.

Saat ini, tuturnya kemudian, sudah ada sekitar 200 ekor sapi GaMa yang dikembangkan. Selanjutnya akan terus dipelihara dan dikawin-silangkan agar mendapatkan turunan sapi dengan genetik yang lebih baik dan stabil.

Sebelum memperoleh turunan yang stabil, pengembangan sapi ini belum akan diserahkan ke peternak secara luas. “Kami saat ini masih bekerjasama dengan mitra agar pemenuhan pakan dan pengawasan lebih terkontrol,” papar Ali Agus.

Pusat pengembangan sapi GaMa sekarang ini, menurut Ali Agus, berada di Instalasi Bengkel Sapi CV Berkah Andini Lestari, Widodomartani, Ngemplak, Sleman, DIY dan PT Widodo Makmur Perkasa (WMP), desa Jambakan, Bayat, Klaten, Jawa Tengah.

Selama masa pengembangan, sapi tersebut mendapatkan pakan khusus yang berasal dari limbah pertanian menggunakan formula multifunctional feed additive yang mengandung mineral, vitamin immunomodulator, dan ekstrak herbal.

Apabila pengembangan sapi itu berhasil dan terbukti menghasilkan jenis sapi dengan keunggulan bobot dan daging yang lebih berkualitas, selanjutnya bisa dikembang-biakkan untuk mendorong peningkatan produksi daging di tanah air.

“Tujuannya memang untuk membantu menambah suplai produksi daging,” ujar Ali Agus, seraya mengemukakan rata-rata satu ekor sapi lokal kita selama ini hanya mampu menghasilkan 100 – 150 kilogram. Sedangkan sapi GaMa diperkirakan bisa tiga kali lipatnya.

Koordinator pengelola bengkel sapi Berkah Andini Lestari, Waluyo (54), mengatakan sebanyak tiga ekor sapi GaMa yang mereka pelihara diperlakukan seperti sapi-sapi lainnya. Namun, sapi untuk penelitian ini mendapatkan pakan fermentasi khusus. “Menggunakan pakan hijauan dan konsentrat fermentasi yang mengandung probiotik. Kita namakan Saus Burger Pakan.”

Sepengamatan Waluyo, anakan sapi-sapi GaMa ini memiliki karakter dominan dari sapi Belgian Blue yang memiliki otot ganda dan sedikit agak liar. (rul)

Hosting Unlimited Indonesia

Share this post