Kotoran Ternak Tambah Pundi Petani

Kotoran Ternak Tambah Pundi Petani

KLATEN – Di bawah kemitraan BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) melalui PAIR (Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi), petani di kabupaten Klaten, Jateng yang tergabung dalam pengembangan STP (Science Techno Park) dan ATP (Agro Techno Park) mampu menambah pundi-pundi mereka. Jangan heran, para petani itu bisa lebih sejahtera hanya gara-gara kotoran ternak.

“Para petani itu telah berhasil mengembangkan pertanian terpadu. Dan hasilnya nyata,” ungkap Kepala PAIR, Totti Tjiptosumirat, pada sarasehan penyampaian capaian dari Nasional STP (PAIR), ATP Musi Rawas, ATP Polewali Mandar, dan ATP Klaten periode 2015 – 2019, di hotel Cokro, Klaten, Senin (2/12) malam.

Para petani di Klaten, itu lanjut Totti, mampu mengembangkan rantai pemanfaatan limbah peternakan dan pertanian sehingga menambah penghasilan. “Limbah pertanian diolah menjadi pakan ternak dan limbah peternakan dijadikan pupuk tanaman. Bahkan dari pengembangan rantai pemanfaatan itu bisa dihasilkan pula biogas.”

Hasilnya pun bisa dinikmati langsung. Dari tlethong saja bisa menghasilkan Rp 6.000 per hari per peternak. “Jelas ini merupakan tambahan penghasilan yang mampu menambah kesejahteraan petani. Ke depan, terus kita tingkatkan kapasitas bisnis maupun teknologi mereka,” tutur Totti kemudian.

Deputi SATN (Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir) BATAN, Efrizon Umar, mengatakan program ATP dan STP merupakan program nasional yang digulirkan Presiden Joko Widodo di awal kepemimpinannya pada 2015. Tahun ini merupakan tahun terakhir pelaksanaan program pengembangan ATP dan STP.

“Sudah banyak hal yang dilakukan bersama dalam pengembangan ATP dan STP. Ini merupakan modal yang kuat untuk melangkah ke depan. BATAN akan selalu mendukung kegiatan yang terkait dengan pengembangan ATP dan STP,” kata Efrizon di hadapan peserta sarasehan.

Pengembangan ATP dan STP, menurut Efrizon, merupakan bagian dari hilirisasi produk litbang iptek nuklir yang dihasilkan BATAN kepada masyarakat. Bidang pertanian dan peternakan menjadi fokus pengembangan ATP dan STP.

Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kemenko PMK, Prof Dr R Agus Sartono MBA, mengemukakan pengembangan STP diharapkan mampu menjawab persoalan bangsa. “Harus diakui, daya saing kita masih tertatih. Karenanya terus didorong pembangunan infrastruktur hingga pengembangan kapasitas kemampuan riset dan perguruan tinggi.”

Capaian ATP di Klaten, Musi Rawas, dan Poliwali Mandar, menurut Agus, perlu diekspos sehingga bisa diketahui secara nasional karena memiliki kontribusi sangat besar. “Ke depan, pengembangan tiga ATP tersebut diharapkan pula mampu membuka lapangan kerja baru, serta mengurangi impor dan mengurangi kemiskinan,” tegasnya. (rul)

Hosting Unlimited Indonesia

Share this post