PLTN Perlu Kajian Ulang

PLTN Perlu Kajian Ulang

SLEMAN – Doktor Ekonomi Mineral/Sumber Daya Alam, Purnomo Yusgiantoro, menyarankan perlunya kajian ulang mengenai pendirian PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) di satu wilayah. Terutama terkait izin atau bersedia tidaknya masyarakat setempat.

“Meski sangat diperlukan guna memenuhi kebutuhan energi, namun PLTN dalam seratus tahun mendatang belum akan terealisasi,” ujar Purnomo yang pernah menjabat sebagai Menteri ESDM (2000-2009), usai berbicara pada seminar Penguatan Ketahanan Energi untuk Mendukung Ketahanan Nasional, di kampus Fakultas Teknologi Mineral UPN Veteran Yogyakarta, Kamis (28/11).

Selama ini, lanjutnya, kebutuhan energi untuk listrik terbesar ada di Jawa. “Kita lima belas tahun lalu sempat mengusulkan pendirian PLTN di gunung Muria namun ditolak masyarakat,” tegas Purnomo yang kini mendirikan Purnomo Yusgiantoro Center itu.

Purnomo yang pernah pula menjabat sebagai Menteri Pertahanan (2009-2014), itu mengaku tak tahu lagi kondisi sekarang. “Sebab, penolakan itu terjadi lima belas tahun lalu. Sekarang seharusnya disurvei lagi. Mau lagi apa enggak? Demikian juga teknologi dan bahan bakunya. Perlu dikaji,” tuturnya kemudian.

Langkah tersebut, imbuh Purnomo, juga perlu dilakukan pada Kalimantan Barat serta Bangka Belitung yang menyatakan bersedia menjadi daerah pertama yang memiliki PLTN di Indonesia.

Ia pun menyarankan, meski secara infrastruktur kelistrikan untuk PLTN dinilai siap namun pendirian instalasi itu harus dikaji ulang. Terutama menyangkut harga energi yang terjangkau (affordability) dan penerimaan jenis energi tertentu (acceptability).

Pada seminar yang sama, Guru Besar Fakultas Teknik UI, Rinaldy Dalimy, menyatakan meski tertuang dalam Kebijakan Energi Nasional tapi PLTN menjadi pertimbangan dan pilihan terakhir.

“Ada risiko dalam penerapan teknologi nuklir untuk persenjataan, pertanian, kesehatan, maupun kelistrikan. Senjata berisiko ledakan, pertanian dan kesehatan berisiko pada limbah, energi listrik berisiko kecelakaan,” jelas Dalimy.

Keberadaan Indonesia di area the ring of fire serta daerah rawan gempa, pun menghadirkan ancaman bencana alam yang tak bisa diprediksi dan membahayakan instalasi. Penggunaan teknologi asing serta pembelian uranium juga akan meningkatkan subsidi listrik dan ketergantungan dengan negara lain.

Indonesia memiliki beragam jenis energi terbarukan yang bisa digunakan sebagai sumber pembangkit listrik. Ada tenaga angin yang sudah dimanfaatkan di Sulawesi Selatan. Tenaga ombak, hidro, tenaga air yang dielektrolisa, dan konversi energi thermal lautan (OTEC) yang potensinya di Indonesia terbesar ketiga di dunia.

“Persoalan utamanya untuk mengelola energi itu membutuhkan dana besar. Di sinilah peran perguruan tinggi, membuat yang mahal menjadi murah,” kata Dalimy lebih jauh.

Pakar Geologi Vulkanologi Surono atau biasa dipanggil Mbah Rono, menyatakan konsep ketahanan energi harus dibarengi ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana. “Selain memahami potensi dan mewaspadi bencana di lingkungan, penataan kawasan kota serta pembangunan infrastruktur vital harus pula memperhatikan ketahanan bangunan terhadap bencana.” (rul)

Hosting Unlimited Indonesia

Share this post